20 Desember 2008

My Reflection I (Kota Kisaran)

Happy Birthday to Me!! Selasa, 09 Desember 2008 merupakan hari ulangtahunku yang ke-35 tahun. Waktu berlalu begitu cepat tanpa terasa. Jika mengingat waktu kecil dulu seperti kemarin saja rasanya. AKu masih ingat bersama teman-teman menangkap kecebong di parit, dimana banyak tumpukan warna kuning (wek..wek..), atau ketika aku berlari mengejar temanku, namanya Meri, yang telah berlaku curang dalam bermain kuaci. Aku mengejarnya sampai gerbang rumah guruku. Lumayan jauh tuh...sekitar 2 Km. Tanpa berhenti aku mengejarnya. Sayangnya dia sudah sampai di gerbang rumah guruku. Ha..ha...Aku tak berani masuk karena itu rumah guruku. Bermain kuaci adalah satu permainan masa kecilku dulu di Kota Kisaran, Sumatera Utara. Bersama minimal satu teman melemparkan beberapa bentuk kemasan plastik dan kemudian membidiknya. Jika kena dan melewati garis berarti kita menang. Apa begitu dulu aturannya ya? Wah...lupa-lupa ingat deh.

Aku ingat menangis sedih ketika murid-murid bapak menginjak taman bungaku, yang dengan susah payah kutanam di depan halaman rumah. Dengan tanpa merasa bersalah mereka menginjak buang-bungaku. Saking sedihnya, aku duduk di bawah pohon jambu air susu,tanpa perduli bagaimana oran g mungkin iri karena bapakku baru pulang dari Jepang. Selama setahun dia belajar di negeri Sakura (Zaman dulu hal itu merupakan hal yang langka, naik pesawat aja merupakan barang mewah saat itu). Mereka menyambutnya dengan gegap gempita, sementara aku menangisi bunga-buangku. Hik..hik...kemudian setelah semua muridnya pulang, bapak mendatangi ku dan berkata:"Mengapa menangis boru?" Dengan terbata-bata aku menjelaskan bungaku diinjak sama murid-murid bapak. Lalu aku dipeluk dan dibawa ke dalam rumah.

Aku ingat ketika bapak pulang dari Jepang membawa oleh-oleh yang banyak sekali dan langka saat itu. Pensil warna (sampai sekarang masih ada lho, aku simpan terus), kotak pensil berwarna merah jambu, dan jam kalung. Dan ketika pulang ke Onan Runggu, kampung ompung/nenek dari mamak, dengan bangga memakai jam kalung itu dan sodara-sodara sepupu melihat ke arah jam kalungku dengan rasa iri.

Aku ingat ketika untuk pertama kalinya merayakan ulangtahunku dengan mengundang teman-teman. Itu merupakan ulang tahunku yang ke-11 ya? Lupa aku! Tapi aku masih ingat ketika mamak, kak Linda, kak Uli, dan yang lain-lain bekerja keras memasak bihun goreng dan kue bolu. Rasanya aku tak ingat lagi, apakah asin, pedas, manis atau hambar. Tetapi yang kuingat adalah duduk di kursi (didampingi adik bungsuku yang cantik) sementara teman-teman duduk di tikar, kemudian aku meniup lilin dan teman-teman menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Dulu kan lagu Happy Birthday to You masih aneh. Wong lidahnya masih kaku gitu. Hi..hi...rasanya bangga sekali bisa merayakan ulangtahun dengan meniup lilin. Hari ulangtahun yang berkesan.

Aku ingat dalam keluargaku, setiap anak yang ulangtahun pasti dirayain dengan makan bersama dengan menu spesial: Gulai Ayam masakan mamak. Hm....senangnya karena jarang makan gulai ayam, dan lebih istimewa lagi adalah bagian daging yang paling disenangi akan dihidangkan bagi yang ulang tahun. Tidak ada acara menyanyikan selamat ulang tahun. Itu merupakan hal yang aneh, tapi pasti bapak dan mamak akan mendoakan kami.

Aku ingat ketika setiap sehabis makan malam, bapak akan mengajak anak-anaknya dan setiap orang yang tinggal di rumah duduk di meja makan dan berdoa. Bapak, dengan wajah seriusnya akan memimpin kebaktian keluarga. Berdoa, bernyanyi, dan membaca alkitab dilahap bapak semua. He..he...nampak kali bapakku ini pelayanNYA. Anak-anak tidak kebagian. Hi..hi...Tentunya di tengah kebaktian itu sudah terdengar suara tepukan dan panggilan namaku, kak Eldi atau dek Golda mengajak untuk bermain. Saat mendengar tepukan itu, tempat duduk rasanya menjadi keras...ingin cepat-cepat menyelesaikan kebaktian. Piuh....dasar anak-anak!!

Aku ingat ketika mamak telat pulang ke rumah, kami akan masak gulai ayam. Tidak ada siapa-siapa, hanya kami anak-anak yang masih kecil dan seorang bapak yang sangat takut melihat darah. Ha..ha...tapi karena akan masak gulai ayam, maka dengan sangat terpaksa, bapak memotong ayam. Setelah leher ayam dipotong, bukannya mati. Ayam malah berdiri dan terseok-seok melarikan diri dengan leher yang berdarah. Hah....peristiwa yang mengerikan saat itu. Untunglah akhirnya mamak pulang, masakan gulai ayam jadi juga. Hi..hi...

Aku ingat ketika abangku yang pendiam memotong rambutku di bawah pohon nangka. Rumah yang dikelilingi oleh banyak pohon nangka, pepaya, belimbing, ubi kayu, pisang. Senangnya rasanya...rumah teduh karena banyak pohon. Kemana bakat abang memotong rambut ya?

Aku ingat ketika bapak selalu membawa aku dan dek Golda jalan-jalan sore, membeli majalah Bobo, sambil singgah di penjual es campur. Rasanya senang sekali di atas vespa bapak jalan-jalan sore. Sayang..hanya kami berdua saja yang menikmatinya.

Aku ingat ketika hampir setiap tahun kami pulang ke rumah ompung di Onan Runggu. Dengan menyewa mobil?? Ach...tak tahulah asal mobil itu darimana, tapi yang pasti ketika sekeluarga pulang tentu dengan mobil. Melewati perkebunan karet dan singgah makan siang di bawah pepohonan karet dengan bekal yang sudah disiapkan dari rumah. Atau lain waktu singgah di Parapat, memandang danau Toba dari atas. Indah sekali....Rasanya danau yang terlihat luar biasa luasnya dari sudut pandang seorang anak kecil. Lain kesempatan bermain di pinggiran danau Toba. Ach...masa-masa yang menyenangkan.

Aku ingat ketika bulan Desember tiba, anak-anak sekolah minggu menyambut Natal dengan menghapalkan ayat-ayat Alkitab: Pada mulanya.....Allah.....menciptakan langit dan bumi.....dan seterusnya. Lalu tari-tarian, pasti tiap tahun tarian : Malam Kudus......Ha..ha....dengan sedikit grogi aku membawa boneka kecil seakan membawa bayi kecil Yesus. Berjalan ke depan, ke kiri dan ke kanan, dan kemudian singgah di suatu tempat untuk meletakan boneka bayi Yesus. Tentunya aku didampingi oleh Yusuf "Saibun". Dimanakah Yusufku itu berada sekarang? Dan acara yang ditunggu-tunggu semua anak-anak sekolah minggu adalah: KUE NATAL. Dengan wajah tak sabar, kami anak-anak kecil menunggu giliran untuk mendapatkan sebungkus kue natal.

Masa kecil yang tak mungkin kualami lagi. Begitu banyak masa indah...tak tertuangkan dalam tulisan ini.....




0 komentar:

 
blog template by suckmylolly.com : header image by Vlad Studio