02 Desember 2008

Psikotest

Psikotest! Kata yang menakutkan bagi pelamar kerja yang sering gagal dalam mengikuti tes ini. Berapa banyak orang sangat penasaran dengan kata ini. Berapa banyak orang yang datang ke toko buku Gramedia atau toko buku lain untuk membeli buku-buku mengenai psikotest dan mempelajarinya dengan harapan bisa lolos dengan mudah dalam mengikuti psikotes.

Saya ingat pengalaman dari teman saya ketika kuliah dulu. Dia orang yang pintar. Nggak mungkin bodoh dong, kuliah di fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Bukannya mengagungkan universitas tertua itu, tapi paling tidak itu menjadi satu indikator dalam masyarakat kita bahwa zaman dulu, masuk universitas ini menunjukkan dia orang pandai. Kalau sekarang sih....nggak pasti satu indikator kale ya. Hi..hi...Habis pendidikan sudah dikomersialkan seh... Lanjut mengenai teman saya ini, ketika dia mengikuti psikotes, dia gagal. Dia jadi bingung sendiri. Apa yang salah dengan diriku? Saya percaya, pasti saat ini dia tidak akan mempertanyakan hal itu lagi karena sekalipun dia gagal psikotest tapi dia bisa kerja yang bagus koq sekarang.

Satu teman saya lagi, kuliah di fakultas Psikologi bok....dan di Universitas Indonesia lagi. Jelas dong hubungan antara fakultas psikologi dengan psikotest. Dia ngaku kalo ada test psikotes bakalan nggak lulus dia. Belum pernah terbukti sih, soalnya dia kerja selalu lulus dengan wawancara pake bahasa Inggris dan kerjanya sukses tuh....

Satu lagi pengalaman orang terdekat saya. Ketika mau ujian masuk Perguruan Tinggi, dengan semangat empat lima dia mengikuti bimbingan tes. Ketika akan ujian, ada fasilitas untuk psikotest menentukan minat dan bakat. Sungguh disayangkan, salah seorang penguji psikotest tersebut mengatakan bahwa kamu tidak memiliki minat dan bakat yang jelas, kalau kamu seperti ini terus maka kamu akan selalu gagal dimanapun kamu berada. Wah...sungguh pernyataan yang kejam. Saya aja tidak percaya dia mengatakan hal tersebut. Mungkin orang terdekat saya itu hanya melebih-lebihkan. (Semoga saja). Tapi dampak dari apa yang disampaikan kepada orang terdekat saya itu berdampak sangat buruk. Dia tidak lulus masuk Perguruan Tinggi Negeri. Dia langsung merasa gagal. Masuk universitas swasta yang sebenarnya bagus (paling tidak diakui masyarakat) dan nilai IPK-nya di atas 3, tapi dia merasa gagal. Satu tahun lagi dia belajar keras agar bisa lulus PTN dan akhinrya tahun ini dia coba lagi dan masuk PTN di kota Bandung. Apakah itu suatu kebetulan? Oh tentu tidak. Itu hasil dari kerja keras dan menghilangkan pernyataan si penguji psikotest itu dan keluar dari "pembatasan diri".

Berkenaan dengan psikotest di atas, saya hanya mau menyampaikan pikiran saya bahwa seringkali hasil psikotest membuat orang membatasi dirinya. Maksudnya membatasi dirinya adalah saya hanya memiliki kemampuan sebatas hasil psikotest itu. Jika hasil psikotest bagus, berarti saya memiliki intelegensi yang tinggi, saya memiliki karakter yang bagus. Jika hasil psikotest tidak sebagus harapan kita, maka berarti saya memiliki intelegensi yang rata-rata atau bahkan di bawah rata-rata, saya memiliki karakter yang buruk. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada kemungkinan terhadap suatu perubahan.

Sangat disayangkan jika banyak orang merasa menjadi orang yang gagal ketika dikaitkan dengan hasil psikotest. Akhirnya orang membatasi dirinya dengan hasil psikotest. Sebenarnya kita sering sekali dibatasi tidak hanya hasil psikotest tapi juga perkataan orang-orang di sekitar kita yang menyatakan hal negatif pada kita. Kita hanya mengingat kata-kata negativ tersebut, kita lupa masih ada orang lain yang pernah mengungkapkan kelebihan kita. Tapi karena seringnya mendengar kata-kata negativ, akhirnya itu terus yang terngiang di pikiran kita. Dan lebih disayangkan lagi, kata-kata negativ itu sering terdengar dari orang terdekat kita: orang tua kita, pasangan kita, sodara kita bahkan mungkin guru kita di sekolah.

Lalu bagaimana mengatasi pembatasan diri kita ini? Banyak langkah sih...tapi satu hal yang sudah berhasil dilakukan oleh orang terdekat saya, suami tercinta (hi..hi...yang benar neh??): MOTIVASI DIRI. Yup...motivasi diri akan memupus perkataan-perkataan negatif yang selama ini kita dengar dan mengkristal dan akhirnya membatasi diri kita. Sepertinya kata motivasi diri bukan hal yang jarang kita dengar, tapi berapa banyakkah yang berhasil untuk memotivasi dirinya? Saya tidak berani menjawab. Andalah yang bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Tapi sebelum ke langkah motivasi diri, perlu kita lakukan adalah kesadaran diri akan kata "pembatasan diri". Kata pembatasan diri ini perlu kita sadari benar sehingga dengan kesadaran itu kita bisa menerima apa yang terjadi dalam diri kita dan akhirnya kita dapat mengambil langkah untuk memotivasi diri melakukan perubahan-perubahan dalam diri kita.

Berminat untuk tidak membatasi diri kita? Ayo...kita sering melakukan refleksi atas apa yang kita lakukan, pikirkan dan katakan. Refleksi....kesadaran diri....motivasi diri....dan akhirnya terbebaskan dari pembatasan pikiran dan pembatasan diri.

Berdiskusi, sharing, dan menulis merupakan salah satu bagian untuk melakuka proses penyadaran diri ini. Bersyukurlah bagi mereka yang terus belajar untuk melakukan hal tersebut.

Selamat atas proses perjuangan Anda dan saya untuk keluar dari pembatasan diri.

0 komentar:

 
blog template by suckmylolly.com : header image by Vlad Studio