06 Januari 2009

My Reflection III (Kota Pelajar, Yogyakarta)

Here is the third of my reflection!!
Aku ingat ketika akhirnya meninggalkan Kota Padang yang penuh dengan cerita masa remajaku menuju Kota Pelajar, Kota Yogyakarta. Dengan berbekal NEM yang pas-pasan untuk ukuran Kota Pelajar dan juga latar belakang sekolah SMAN 2 Padang yang cukup bagus, abang tertua, Samuel mendaftarkan diriku di SMAN 3 Yogyakarta. Perbedaan NEM saja sudah membuatku "keder", apalagi dengan budaya dan bahasa yang tidak kumengerti sama sekali. Bahasa Jawa merupakan bahasa planet yang sama sekali asing bagiku dan itu menyebabkan aku menjadi penyendiri di ruang kelas IPS. Untunglah ada temanku yang baik hati, namanya Dewi yang memperhatikan aku dan selalu menanyakan keadaan diriku. Aku ingat ketika teman-teman lumayan hebat dalam mata pelajaran Matematika sementara aku tidak. Aku menjadi orang yang berpikir aku paling bodoh sedunia. Tapi kemudian ketika tamat SMA, aku masuk ranking 15 besar yang biasanya selama sekolah di SMAN 3 aku selalu mendapat ranking di atas 25. Ha..ha..

Aku juga ingat ketika sekolah SMAN3 tersebut, aku duduk melingkar dengan teman-teman persekutuan sekolah. Dewi mengajakku ikut persekutuan doa sekolah, sebelum jam sekolah dimulai kami duduk melingkar dan berdoa bersyafaat bersama. Hah...situasi yang paling aneh kurasakan dan kubenci apalagi ketika aku diminta untuk mendoakan bangsa dan negara? Doa apa ini? Tak mengertilah aku. Ketika tiba giliranku berdoa, aku diam saja...diam seribu bahasa...tidak mengerit apa yang harus diucapkan. Apa pula ini. Ha...ha...Akhirnya temanku Dewi melanjutkan doanya tanpa menungguku lagi lebih lama. Bayangkan...anak pendeta bok...

Aku ingat ketika ibu guru bahasa Jermanku, ibu Anna namanya, ngambek tidak mau mengajar selama satu semester karena ada salah satu temanku yang kentut di dalam kelas dan ajuibilah...baunya rek....Tidak ada yang mengaku, sehingga akhirnya selama satu semester kami tidak belajar bahasa Jerman. Ya...nasib....

Aku ingat pepatah yang mengatakan: "Masa yang paling indah adalah masa SMA". Ach...sepertinya pernyataan itu tidak berlaku padaku. Aku hidup di negeri antah berantah yang asing sekali.

Aku ingat ketika "Naik Sidi" aku sedih karena emak dan bapak tidak datang, yang ada hanya sodara, itupun tidak ada acara makan-makannya, tidak seperti yang lain. Tapi aku bersyukur punya keluarga lain yang mengundang kami untuk makan di rumah namboru, mamanya Lena. Rumah yang mungil tapi kehangatan namboru dan keluarga tidak semungil rumahnya, bahkan besar sekali.....apalagi kalo Lena sudah tertawa.....wah......Bersyukur untuk satu keluarga yang kukenal ketika berada di kota Pelajar ini.

Aku ingat ketika tes wawancara di Universitas Duta Wacana untuk mencoba masuk jurusan Theologia, bapak Budi menanyakan: "Kenapa kamu tertarik untuk masuk Theologia?" Dengan polosnya aku menjawab:"Aku merasa dipanggil, pak". Lalu pak Budi melanjutkan bertanya: "Siapa yang memanggil kamu?" Aku terdiam sambil menyimpan kedongkolan...Pertanyaan macam mana pula si bapak ini.

Aku ingat ketika akhirnya aku masuk Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, angkatan 1992. Aku sedih sekaligus senang. Sedih karena pengumuman gelombang kedua Fakultas Theolgia Duta Wacana belum keluar. Sementara pengumuman gelombang pertama sudah meyatakan bahwa aku gagal masuk FakultasTheologia. Karean waktu yang terbatas, aku harus memilih mendaftar di Fakultas Filsafat ataukah menunggu hasil pengumuman gelombang kedua Fakultas Theologia? Akhirnya aku memilih mendaftar di Fakultas Filsafat. Sebenarnya jauh di relung hati akul ebih suka jika diterima di Fak. Theologia. Apa itu Fakulstas Filsafat? Tak mengertilah aku....Aku hanya melihat bagaimana abangku yang ganteng, Justin Mardoharris yang sudah kuliah lebih dahulu di Fakulas Filsafat itu sangat jarang berbicara tapi ketika berbicara, pembicaraanya runtut dan sistematis. Aku juga tidak mengerti kenapa dia tidak senang ketika kusampikan bahwa kau lulus di Fakultas Filsafat.

Aku ingat ketika kuliah di gedung Balairung, lantai 3, aku dan kedua sahabatku mengikuti kuliah dengan kebingungan atas penjelasan dosen-dosen kami. Kami dikenal trio kwek..kwek..(Aku, Ema, dan Naomi)> Entah kenapa kami disebut trio kwek..kwek...mungkin karena kalau kami tertawa berbarengan, suara kami membahana dan gedung Balairung bergetar. Ach...ada-ada aja. Sama-sama orang Batak tapi memiliki pribadi yang sangat berbeda. Yang satu keibuan (katanya demikian), yang satu super sibuk dan mandiri (gimana nggak super sibuk, kuliahnya di dua tempat), dan yang satu lagi hati-hati dalam bergaul. Yang hati-hati ini mengatakan bahwa pertama kali melihat aku dia kesal...karena aku terlalu centil dan banyak bicara. Ha..ha..yang super sibuk..bicaranya sangat cepat...untunglah aku tetap mengerti apa yang dikatanya. Hi..hi...Persahabatan indah yang selalu kusyukuri.

Aku ingat ketika kak Yahya mengenalkan kami pada Persekutuan Mahasiswa Kristen Filsafat, Ekonomi, dan Psikologi (PMK Filekpsi). Dalam ketidak mengertian akan siapa itu Tuhan dan tuntutan bacaan untuk selalu mempertanyakan keberadaaNya, aku aktif dalam PMK. Sebenarnya tidak banyak kubaca buku-buku filsafat, tapi koq ya akhirnya mempertanyakan Tuhan? Mungkin penjelasan dosen yang sering bertanya tentang apa aja. Aku ingat..aku tetap aktif dalam persekutuan sambil terus bertanya tentang DIA.

Aku ingat ketika aku punya Kelompok Tumbuh Bersama (KTB), yang mana kakak KTB-ku bernama mbak Yani. Wong Solo yang lemah lembut. Aku selalu diberikan PR untuk menghapal ayat-ayat Alktitab. Wah..males benar. Ha..ha...Kami sering diskusi atau tepatnya diberi penjelasan mengenai dasar-dasar kekristenan di lantai dasar Balirung. Dia kakak yang baik hati, tapi dia tidak mengerti pergumulanku mengenai Tuhanku.

Aku ingat ketika aku menjadi aktif di PMK Filekspi, ada begitu banyak mas dan mbak yang baik hati banget. Semuanya baik dan perhatian (yang akhirnya menjadi saudara iparku), Mas Leo, Mas Arif, Mas Bayu, Adi dan Adi Ting, Alloy, dan masih banyak lagi. Ada juga adik-adik di bawahku: Frans dan Nita (mereka berada di sorga sekarang), Ima, dan Deny (yang menjadi adik KTB-ku), Bonar, Ima, Deni, Dyah, Nico, Agus, Anton, Laura, Prima. Duh...banyak sekali. Mereka semua sedikit banyaknya menjadi bagian yang mewarnai hidupku.

Aku ingat ketika sobatku, Ema berpisah jarak dengan pacarnya dan kemudian putus. Kami sama-sama stres..Mungkin kami sudah lupa stress karena apa. Ha..ha...tapi dalam keadaan begitu, dengan gila kami bermain hujan-hujanan di hamparan rumput hiijau di alun-alun Utara. Persis kayak anak kecil. Masih ingatkah Ema akan kegilaan kami? Hanya kami berdua di lapangan rumput seluas itu. Dunia milik kami berdua, yang lain hanya numpang. Hi..hi...

Aku ingat ketika aku pacaran untuk pertama kalinya dengan seorang pria pujaan hatiku, namanya Tulus Tobing. Lupa nama lengkapnya. He..he...hanya dengan tersenyum saja dia padaku sudah membuatku mengawang-awang...dan ketika dia meninggalkan aku hanya karena aku terlalu baik katanya, aku terhempas kembali ke bumi. Ach...masih untung bumi, bukannya terhempas ke kumpulan duri. Ha...ha...

Aku ingat ketika aku selalu memberi perhatian kepada banyak orang dan dua diantaranya begitu yakin bahwa hanya karena aku adalah pribadi yang perhatian dan peduli pada orang lain maka aku akan menjadi istri yang baik buat mereka. Dua orang yang berteman baik, tapi dua-duanya hanyalah abang yang baik hati bagiku.

Aku ingat ketika abang keduaku yang ganteng pulang dari Surabaya. Matanya merah penuh kecurigaan, kewaspadaan dan ketakutan. Aku tak mengerti apa-apa tentang keadaanya. Aku hanya tahu bahwa akhirnya dia sakit dan pernah merasakan sakitnya diberi kejutan listrik. Sedih adalah kata yang tepat jika mengingat abangku ini. Tapi walaupun demikitan aku tetap sayang pada abangku ini.

Aku jadi ingat akan kakak di atasku persis, Elyanju. Kami biasanya memanggilnya kak El...Saat dia ulangtahun, aku berjanji bahwa aku akan pulang tepat waktu dan membawa makanan kesukaan kami. Sayangnya aku pulang terlambat. Dia ngambek dan tidak mau keluar dari kamar. Dia merasa aku memperhatikan seluruh dunia, tapi untuk satu hari saja, hari ulangtahunnya aku tidak memberikan perhatian padanya. Ach...aku sangat menyesal.

Aku ingat ketika aku menjadi pengangguran di Kota Bandung. Bersama kak Ellys, Ema, dan Eni berjuang untuk hidup dalam kesederhanaan. Dalam kondisi stress begitupun, kami bisa tertawa bersama. Tidak sampai setahun...tapi itu merupakan saat-saat menyengsarakan tapi membahagiakan karena tidak ada keluarga satu orangpun di kota Dingin itu, tapi serasa memiliki kakak dan sodara yang baik hati.

Aku ingat ketika akhirnya mendapat pekerjaan di Kota Bandung sebagai guru SDK VI BPK Penabur Bandung. AKu dikenal sebagai guru yang baik hati oleh murid-muridku. Alvin yang tidak bisa diam, Maria yang pintar sekali tapi sombong, Margaretha yang memandangku penuh kekagumana, Daniel yang akhirnya tinggal kelas karena keluarga yang tidak memperhatikan dengan baik pendidikannya. Ach...saat itu aku sebagai penentu masa depan dari murid-muridku. Bagaimana kabar Daniel sekarang ya??

05 Januari 2009

My Reflection II (Kota Padang)

Here I am!!!
Tahun 2009 telah tiba tetapi lanjutan tulisan my reflection I (Kota Kisaran) belum kutuliskan. Hm...sebelum memulai tulisan yang baru, aku melanjutkan tulisan yang tanggung ach...sayang banget untuk tidak dilanjutkan. Itu merupakan perjalanan hidupku...Masak sih nunggu ulangtahun yang ke-36 untuk penyelesaian tulisannya. Iya nggak seh???

Nih ni...lanjutannya...

Aku ingat ketika pindah dari Kota Kisaran menuju Padang, Sumatera Barat, mamakku menangis dengan sedih ketika meninggalkan teman-temannya. Sementara aku tidak mengerti kenapa dia menangis. Dengan barang- barang yang penuh satu truk kami berangkat ke Kota Padang yang ternyata bersih banget dan satenya enak sekali.

Aku ingat ketika sekolah di SD Negeri No. 57 Padang, dengan semangat 45 aku diminta oleh ibu guruku yang anaknya bernama Dora (aku ingat) menyanyikan lagu Indonesia Raya tanpa teks. Ha...ha.. di tengah jalan, berhenti karena lupa. Ibu guru tidak bisa marah kepadakuk arena aku yang paling semangat latihan nyanyi tapi ketika dites di depan kelas lupa teks lagunya, bagaimana dengan yang lain?

Aku ingat dengan Dian dan Ami. Dua sahabatku di SD. Dian yang kurus dan ceriwis dan Ami gendut yang berambut indah. Pernah bersama mereka dan teman SD yang lain ke pantai Air Manis...katanya di pantai itu terletak kapal Malin Kundang. Perjalanan yang melelahkan tapi senang karena bisa melintasi pepohonan rindang sepanjang bukit yang didaki dan juga luasnya pantai Air Manis yang masih perawan.

Aku ingat ketika teman-teman SMP 4 datang ke rumah dan makan di rumah, dimana saat itu, kami berada di Kota Padang, yang hampir 100% penduduk aslinya muslim semua, dan adalah aneh bila mereka mau makan di rumah temannya yang bapaknya pendeta Kristen dan gerejanya di samping rumah lagi. Rasanya saat itu aku sangat bangga bahwa teman-temanku mau percaya padaku untuk makan di rumah dengan masakan dari emakku yang cantik. Lauknya sederhana, ikan teri medan yang disambal. Tentunya dengan campuran kacang tanah.

Aku ingat dengan Vera, teman dekatku di SMP. Setiap berangkat dan pulang sekolah pasti melalui rumahnya yang dipenuhi dengan begitu banyak rotan-rotan sebagai bahan membuat keranjang buah. Itu merupakan mata pencaharian orangtuanya. Vera yang sederhana tapi yang cerdas.

Aku ingat indahnya cinta monyet. Safri Andriza namanya. Orangnya ganteng (pada saat itu, hi..hi..). Senangnya merasakan debaran jantung ketika mata saling memandang malu-malu dan langsung buang muka sejauh mungkin agar tidak ketahuan. Gimana nggak ketahuan, wong mata sudah saling memandang. Hi..hi...Debby, temanku yang cantik mengatakan bahwa pujaan hatiku sangat menyukai diriku, tapi karena kami berbeda keyakinan, apalagi aku anak pendeta, jadinya dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya padaku. Walau hanya mendengar dari Debby, tapi rasanya senang sekali mengetahui bahwa pujaan hatiku ada rasa padaku.

Aku ingat ketika bapak sekali-kali menjemput aku dan adikku di sekolah dengan mobil kijangnya yang berwarna hijau muda itu dan sekali-kali menjemput kak Eldi di SMP Kalam Kudusnya. Rasanya senang dan bangga sekali bapak dan mamak menjemput dengan mobil, padahal itu mobil second. Ha...ha...tapi bapak bangga sekali karena dengan mobil itu juga dapat melakukan pelayanannya.

Aku ingat ketika dengan mobil kijang itu, bersama bapak, mamak, dan lagi-lagi adik bungsu itu pergi ke berbagai daearah di Sumatera Barat. Pelayanan bapak di berbagai kota di Sumatera Barat membawa kami juga mengelilingi kota-kotanya: Danau Singkarak, Danau Maninjau, Pariaman, Bukit Tinggi, Solok, dan masih banyak lagi...Satu hal yang kuingat adalah ketika sehabis bapak melayani di gereja, kami membawa rambutan yang sangat banyak. Rambutan tersebut merupakan oleh-oleh dari salah satu jemaatnya. Aku lupa nama tempatnya dan wajah yang memberikan rambutan itupun aku lupa, tetapi aku ingat di sekeliling rumahnya banyak sekali pohon rambutan dan aku ingat bagaimana senangnya dan bangganya aku bisa mengikuti beberapa perjalanan pelayanan bapak.

Aku ingat ketika adik bungsuku yang cantik berlatih Kempo pada malam hari. Semangatnya mengalir dalam diriku yang membuatku akhirnya juga ikutan latihan beladiri Kempo. Tapi yang namanya termotivasi karena orang lain, bukan diri sendiri, akhirnya berhenti sampai ban hijau. Its...ni...sam...si....Ha..ha..hanya itu yang tertinggal dalam ingatanku.

Aku ingat ketika pergi berbelanja ke pasar bersama adik dan mamak yang cantik, kami sering sekali mampir ke warung soto padang. Hm....lezatnya soto itu. Setelah lelah berbelanja....kenikmatan soto padang dapat membuat hidup lagi.

Aku ingat ketika SMA kelas satu di SMAN 2 Padang, setiap hari Jumat, kami wajib berpakaian kerudung. Bawahannya pake sarung yang dililit, atasannya baju kurung, untung ndak pakai jilbab, kalau pakai...wah...aku pasti dibilang mirip Cut Nyak Dien, pahlawan dari Aceh. Dengan baju kurung yang sarungny sering naik ke atas, bersama teman-teman berjalan kaki menuju tempat perhentian bis. Sepanjang jalan ada banyak pohon yang rindang.

Aku ingat lelaki Padang bernama Dody. Cowok keren itu mencuri hatiku. Swit...swit....mencuri hati sang perawan. He...He....cinta monyet kedua yang tetap tidak kesampaian. Ach...lagi-lagi karena berbeda keyakinan.

Aku ingat ketika bapak dan mamak pindah kerja ke Doloksanggul. Keputusan bersama sudah diambil. Kami akan tetap tinggal di Padang, di asrama Katolik, selama beberapa bulan sampai pembagian raport kenaikan kelas dua. Bertiga dengan kak Eldi dan dek Golda, kami tinggal di asrama. Banyak teman yang bersuku bangsa Cina. Pertama rasanya aneh berada di antara mereka yang berwarna kulit putih, tapi akhirnya aku punya teman dekat bernama Amey, yang sangat suka telur asin. Berkat dialah aku akhirnya suka sekali telur asin yang awalnya bagiku sangat busuk baunya, tapi akhirnya sangat enak. Kwek..kwek...

 
blog template by suckmylolly.com : header image by Vlad Studio