05 Januari 2009

My Reflection II (Kota Padang)

Here I am!!!
Tahun 2009 telah tiba tetapi lanjutan tulisan my reflection I (Kota Kisaran) belum kutuliskan. Hm...sebelum memulai tulisan yang baru, aku melanjutkan tulisan yang tanggung ach...sayang banget untuk tidak dilanjutkan. Itu merupakan perjalanan hidupku...Masak sih nunggu ulangtahun yang ke-36 untuk penyelesaian tulisannya. Iya nggak seh???

Nih ni...lanjutannya...

Aku ingat ketika pindah dari Kota Kisaran menuju Padang, Sumatera Barat, mamakku menangis dengan sedih ketika meninggalkan teman-temannya. Sementara aku tidak mengerti kenapa dia menangis. Dengan barang- barang yang penuh satu truk kami berangkat ke Kota Padang yang ternyata bersih banget dan satenya enak sekali.

Aku ingat ketika sekolah di SD Negeri No. 57 Padang, dengan semangat 45 aku diminta oleh ibu guruku yang anaknya bernama Dora (aku ingat) menyanyikan lagu Indonesia Raya tanpa teks. Ha...ha.. di tengah jalan, berhenti karena lupa. Ibu guru tidak bisa marah kepadakuk arena aku yang paling semangat latihan nyanyi tapi ketika dites di depan kelas lupa teks lagunya, bagaimana dengan yang lain?

Aku ingat dengan Dian dan Ami. Dua sahabatku di SD. Dian yang kurus dan ceriwis dan Ami gendut yang berambut indah. Pernah bersama mereka dan teman SD yang lain ke pantai Air Manis...katanya di pantai itu terletak kapal Malin Kundang. Perjalanan yang melelahkan tapi senang karena bisa melintasi pepohonan rindang sepanjang bukit yang didaki dan juga luasnya pantai Air Manis yang masih perawan.

Aku ingat ketika teman-teman SMP 4 datang ke rumah dan makan di rumah, dimana saat itu, kami berada di Kota Padang, yang hampir 100% penduduk aslinya muslim semua, dan adalah aneh bila mereka mau makan di rumah temannya yang bapaknya pendeta Kristen dan gerejanya di samping rumah lagi. Rasanya saat itu aku sangat bangga bahwa teman-temanku mau percaya padaku untuk makan di rumah dengan masakan dari emakku yang cantik. Lauknya sederhana, ikan teri medan yang disambal. Tentunya dengan campuran kacang tanah.

Aku ingat dengan Vera, teman dekatku di SMP. Setiap berangkat dan pulang sekolah pasti melalui rumahnya yang dipenuhi dengan begitu banyak rotan-rotan sebagai bahan membuat keranjang buah. Itu merupakan mata pencaharian orangtuanya. Vera yang sederhana tapi yang cerdas.

Aku ingat indahnya cinta monyet. Safri Andriza namanya. Orangnya ganteng (pada saat itu, hi..hi..). Senangnya merasakan debaran jantung ketika mata saling memandang malu-malu dan langsung buang muka sejauh mungkin agar tidak ketahuan. Gimana nggak ketahuan, wong mata sudah saling memandang. Hi..hi...Debby, temanku yang cantik mengatakan bahwa pujaan hatiku sangat menyukai diriku, tapi karena kami berbeda keyakinan, apalagi aku anak pendeta, jadinya dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya padaku. Walau hanya mendengar dari Debby, tapi rasanya senang sekali mengetahui bahwa pujaan hatiku ada rasa padaku.

Aku ingat ketika bapak sekali-kali menjemput aku dan adikku di sekolah dengan mobil kijangnya yang berwarna hijau muda itu dan sekali-kali menjemput kak Eldi di SMP Kalam Kudusnya. Rasanya senang dan bangga sekali bapak dan mamak menjemput dengan mobil, padahal itu mobil second. Ha...ha...tapi bapak bangga sekali karena dengan mobil itu juga dapat melakukan pelayanannya.

Aku ingat ketika dengan mobil kijang itu, bersama bapak, mamak, dan lagi-lagi adik bungsu itu pergi ke berbagai daearah di Sumatera Barat. Pelayanan bapak di berbagai kota di Sumatera Barat membawa kami juga mengelilingi kota-kotanya: Danau Singkarak, Danau Maninjau, Pariaman, Bukit Tinggi, Solok, dan masih banyak lagi...Satu hal yang kuingat adalah ketika sehabis bapak melayani di gereja, kami membawa rambutan yang sangat banyak. Rambutan tersebut merupakan oleh-oleh dari salah satu jemaatnya. Aku lupa nama tempatnya dan wajah yang memberikan rambutan itupun aku lupa, tetapi aku ingat di sekeliling rumahnya banyak sekali pohon rambutan dan aku ingat bagaimana senangnya dan bangganya aku bisa mengikuti beberapa perjalanan pelayanan bapak.

Aku ingat ketika adik bungsuku yang cantik berlatih Kempo pada malam hari. Semangatnya mengalir dalam diriku yang membuatku akhirnya juga ikutan latihan beladiri Kempo. Tapi yang namanya termotivasi karena orang lain, bukan diri sendiri, akhirnya berhenti sampai ban hijau. Its...ni...sam...si....Ha..ha..hanya itu yang tertinggal dalam ingatanku.

Aku ingat ketika pergi berbelanja ke pasar bersama adik dan mamak yang cantik, kami sering sekali mampir ke warung soto padang. Hm....lezatnya soto itu. Setelah lelah berbelanja....kenikmatan soto padang dapat membuat hidup lagi.

Aku ingat ketika SMA kelas satu di SMAN 2 Padang, setiap hari Jumat, kami wajib berpakaian kerudung. Bawahannya pake sarung yang dililit, atasannya baju kurung, untung ndak pakai jilbab, kalau pakai...wah...aku pasti dibilang mirip Cut Nyak Dien, pahlawan dari Aceh. Dengan baju kurung yang sarungny sering naik ke atas, bersama teman-teman berjalan kaki menuju tempat perhentian bis. Sepanjang jalan ada banyak pohon yang rindang.

Aku ingat lelaki Padang bernama Dody. Cowok keren itu mencuri hatiku. Swit...swit....mencuri hati sang perawan. He...He....cinta monyet kedua yang tetap tidak kesampaian. Ach...lagi-lagi karena berbeda keyakinan.

Aku ingat ketika bapak dan mamak pindah kerja ke Doloksanggul. Keputusan bersama sudah diambil. Kami akan tetap tinggal di Padang, di asrama Katolik, selama beberapa bulan sampai pembagian raport kenaikan kelas dua. Bertiga dengan kak Eldi dan dek Golda, kami tinggal di asrama. Banyak teman yang bersuku bangsa Cina. Pertama rasanya aneh berada di antara mereka yang berwarna kulit putih, tapi akhirnya aku punya teman dekat bernama Amey, yang sangat suka telur asin. Berkat dialah aku akhirnya suka sekali telur asin yang awalnya bagiku sangat busuk baunya, tapi akhirnya sangat enak. Kwek..kwek...

1 komentar:

Ima mengatakan...

Padang, salah satu kota yang pengen banget aku kunjungi, tp belum jadi2 sampe saat ini.
Kakak malah dah pernah tinggal di sana ya.. :)

 
blog template by suckmylolly.com : header image by Vlad Studio