21 September 2010

Kunjungan Sahabat II: Bersama Ben

Luar biasa...!!
Satu kata yang terpikirkan dalam pikiranku ketika akhirnya kami bertemu. Tuhan itu baik...memberi satu kesempatan untuk bertemu. Dia ingin sekali mengunjungiku, melihat tempat dimana aku bekerja dan dimana aku tinggal.

Dengan lambaian tangan kanan, aku memberi isyarat kepada supirnya untuk masuk halaman depan tempat aku bekerja. Saat dia turun, dia peluk aku dengan hangat. Suaranya masih seperti dulu, gaya bicaranyapun masih sama, masih Emma yang kukenal. Ha..ha..Lalu muncul si kecil yang ganteng. He..he..sudah besar Ben yach...dan ajaib dia mau untuk salaman dan dipeluk. Terakhir ketemu dengan Ben, sangat susah mendekatinya walaupun berhasil sekali memeluknya di pesta pernikahan "bou" nya. Di sela kesibukan bersama keluara, masih sempat membawa dua jenis kue. buat kami He..he..kita berlebaran ya...

Aku ingin memperkenalkannya dengan teman kantorku, tetapi dia seakan ragu, akhirnya dia dan Ben masuk ke ruang kerjaku. Dia senang melihat suasana kantorku. Hm..sekilas memang nyaman karena suasana kekeluargaan, nggak kantor banget gitu lho...

Berfoto bersama Ben kemudian berdua dengan mamanya dan Ben yang ambil. Sambil tertawa Ben memfoto kami. Kemudian dengan bantuan teman kerja, Nissa yang baik hati dan cantik mengambil foto kami bertiga, sayang Ben tidak mau, akhirnya hanya aku dan Emma.

Setelah itu, dengan mobil sewanya, kami menuju rumah sambil bercakap-cakap dan akhirnya tiba di rumah mungil kami. Abang sudah siap menanti. Biasanya hanya dengan baju seragam kerjanya, celana pendek dan kaos, tetapi kali ini dia lengkap dengan jeans dan kaos CWSH.-nya Aku sendiri terpesona dengan kesiapan si abang menyambut sahabatku. Good...Good...Ha..ha..

Senang melihat Ema dan abang berbincang, lepas bebas sementara aku memanaskan masakan yang sudah kusiapkan tadi pagi sebelum ke kantor. Rendang ala renta dan sup daging untuk Ben, tak lupa tentunya telur yang sudah disiapkan untuk menjadi telur dadar buat Ben dan mamanya He..he..ibu dan anak memiliki selera yang sama persis, hanya kali ini mamanya Ben lebih memilih telur dadar tanpa garam karena lupa buat garamnya. Untung telur dadar buatan tante Renta untuk Ben ada garamnya. He..he..

Melihat Ben makan lahap dengan telur dadarnya, jadi ingat benar dengan mamanya dulu. Menu favorit telur dadar. Ha..ha..sayang aku lupa foto Ben lagi makan dadar itu, koq kayaknya enak banget makan telur dadar ya, Ben...Kehadiran Ben dengan telur dadarnya membuat tante Renta kerajinan makan telur dadar dua mingguan. Ha..ha...

Setelah makan, terlihat ngantuk. Nah..itu nurun dari tante Renta, Ben...habis makan ngantuknya pol. Asal jangan Aspemo kayak tante Renta ya. Ha..ha..Bersama om-nya, Ben ke tempat tidur. Kirain tidur, eh...malah ketawa ngakak bersama om-nya. Saat Ben masih di rumah, aku tidak mengerti kenapa bisa om-nya membuat dia tertawa terbahak begitu, tapi setelah Ben pergi, om-nya cerita dan aku mengerti kenapa Ben tertawa, buka karena om-nya tapi karena plesetan kata-katanya sendiri. Hm..kecil-kecil sudah punya selera humor seperti mamanya. Bayangin aja, nine diplesetin jadi nice, two menjadi teeth, six menjadi sex. Wah.wah..kecil-kecil sudah pintar plesetin kata ya, Ben...

Ada satu kejadian yang lucu juga, ketika mama Ben telpon keluarga yang akan dikunjungi, pulsanya habis, lalu minjam HP-ku, dengan yakin bahwa pulsaku masih banyak, aku memberikan HP-ku, eh...ternyata pulsanya tidak mencukupi. Ha..ha...lalu pinjam HP abanglah. Untung ada. Hi..hi..

Waktu yang singkat untuk bercerita banyak hal dengan mamanya Ben, tetapi kami bersyukur punya kesempatan untuk bertemu terlebih aku, sahabatku mengunjungi kami di rumah mungil kami. Setiap pertemuan dengannya selalu meninggalkan kata-kata positive yang mendukung aku untuk tetap semangat dan maju. Tinggakan sikap itu, itu tak ada gunanya. Kalimat yang sederhana tetapi bermakna bagiku. Semoga aku bisa menerapkan kata-katanya. Aku berharap juga bahwa dalam setiap pertemuan denganku, dia mendapat kata-kata positive dariku.

Terdesak oleh waktu, akhirnya Ben dan mama Ben menuju Rumah Sakit di Menteng. Sebelum menuju mobil, sebuah kaos mungil untuk Ben. Sepertinya sih kebesaran ya, Ben...dan sebelum memasuki mobil, mama Ben berkata, tidak ada oleh-oleh dariku jadi bentuk yang lain aja ya. Hm...selalu memberi yang tak terduga, salib, rok, kaset, "baju ehem", bentuk lain. Tapi di atas semua itu, dia memberikan persahabatan yang menerimaku apa adanya. Siapakah aku sehingga persahabatan kami bisa bertahan sampai saat ini? Tentunya bukan karena siapakah aku dan siapakah dia, tetapi karena Dia ada diantara persahabatan kami.

Hm..jadi ingat satu sahabat di masa kecil dulu, kami baru bertemu setelah hampir 21 tahun tidak berjumpa sama sekali, tetapi akhirnya kami bertemu lagi dan sepertinya kami berdua merasakan bahwa kami ingin membingkai kembali persahabatan itu. Dapatkah?? Hm...satu kemungkinan yang menarik untuk direnungkan dan didoakan.

Bagaimana dengan persahabatan yang lain? Perlu dipikirkan usaha untuk membangun komunikasi yang intensif lagi dengan beberapa sahabat lain yang mungkin selama ini terabaikan. Maaf...sahabat-sahabatku....

0 komentar:

 
blog template by suckmylolly.com : header image by Vlad Studio