16 November 2010

Pesta Pernikahan: Agustine Br. Marbun

Waw...luar biasa! Semakin menulis semakin ingin menuangkan banyak hal dalam tulisan. Mungkin ini sekedar suatu bentuk catatan harian, perjalanan hidup, tetapi menarik. Jadi ingat dulu, saat masih di Kota Yogyakarta, aku rajin sekali menulis hasil proses perenunganku mengenai Firman Tuhan. Catatan itu masih ada sampai sekarang, selalu kubawa kemana saja pindah rumah. Tetapi...he..he..ketika membacanya lagi, agak sakit mata "sikit". Hi..hi..gimana tidak, tulisannya itu lho...Walau demikian, ada saat membacanya kembali aku terkagum-kagum dengan apa yang kutulis. Semoga blog ini juga ketika aku membaca kembali, saat kapanpun itu dan dimanapun itu, aku terkagum-kagum dengan apa yang kutulis, bukan karena tulisannya bagus tetapi karena saat membaca kembali saat itu aku ingat semua peristiwa yang kualami dan terkagum-kagum melihat pemeliharaanNYA. Luar biasa.

Unt
uk tulisan ketiga hari ini, aku ingin menuliskan pengalaman kedua di acara pesta batak. Sudah empat tahun aku dan abang menikah. Hm..kapan ya aku menikah itu? Hi..hi..Tgl 13 Juli 2006 di Kota Pematang Siantar. Waw..sudah lama sekali ya. Nah..setelah 4 tahun, baru ini kali kedua aku dan abang menghadiri pernikahan keluarga batak, sebelumnya pernikahan Arlen Marbun.

Hm..sebelumnya sudah ada ketika Evi, adiknya Ema menikah dengan adat pesta batak juga, tapi kami hanya sekedar hadir, kalau ini karena masih keluarga,
masih seputar keluarga suami, Marbun, terlibat dalam perbincangan persiapan dan mangulosi. Justru melalui bergabung dengan keluarga Marbun ini, kami menjadi semakin sering terlibat dalam acara batak, ya arisan..ya..martupol (bisa dikatakan pertunangan) dan ya...pernikahan.

Satu sisi cukup berat untuk selalu mengikuti acara batak ini. Bagaimana tidak, ketika terlibat arisan, itu berarti siap dengan acara martupol dan acara pernikahan. Arisan, martupol dan pernikahan berarti sering lokasi pertemuan jauh, biaya "make up", biaya "tumpak", biaya beli "ulos" dan biaya taksi. Sehubungan hanya masih memiliki sepeda motor, belum punya mobil, maka setiap acara yang disertai "make up" maka perlulah naik taksi, nggak mungkin kan naik motor atau naik bis? Hi...hi..bisa hilang semua make up terbawa angin. Satu sisi memang berat.

Akan teta
pi sisi lainnya, aku senang menghadiri acara ini, membuatku merasa dekat dengan "dunia batak". Ya..dunia batak yang selama ini jauh dari diriku karena sejak SD sudah merantau di negeri orang, ya Padang, ya Jawa. Tidak dekat dengan "bebauan batak". Ha..ha..Mungkin karena itu, aku merindukan sosok suami batak seutuhnya. Ha..ha..Sebelum menikah, harapannya menikah dengan lelaki batak tulen, murni, yang mengerti bahasa batak dan budaya batak, tetapi Tuhan memang punya rencana lain, Dia memberi lelaki setengah batak setengah dayak, dan sangat bersyukur untuk itu, kan jadi punya mertua dayak dan keluarga besar Dayak. Waw...tak terpikirkan sebelumnya punya keluarga besar Dayak. Thank you, Jesus.

Berhubung suami bukan batak murni, maka setelah menikah masih jauhlah dengan bebauan batak tadi, tetapi Tuhan tahu kali ya kalau aku merindukan dunia batak itu. Terlibatlah kami dalam arisan keluarga Marbun yang masih satu ompung di Kota Jakarta ini. Awalnya masih ikut arisan bulanan, jika ada acara selalu mencari cela untuk tidak terlibat. Ha..ha..ya itu tadi...lokasi yang jauh dan waktu yang sangat sempit di ibu kota ini.

Kembali ke pernikahan Agustine Br. Marbun. Dia panggil mamak tua kepadaku. Hubungan persaudaraannya dilihat dari ompung kami bersaudara dan kami masih yang paling tua, sehingga akhirnya panggilanku adalah mamak tua. Dia sering lupa untuk manggil aku mamak tua, lebih sering panggil kakak. Katanya sih karena aku masih terlihat muda. Hi..hi..maunya sih...tapi memang terlihat banget kalau ibu yang sudah punya anak dengan ibu yang belum punya anak, khususnya di kalangan ibu-ibu batak. Hm...

Well..point yang ingin aku sampaikan dalam tulisan ini adalah dalam pesta pernikahan batak kedua yang kami hadiri inilah, aku dapat melihat sedikit dunia batak yang kurindukan. Dunia batak yang membuatku merasa berat untuk beberapa hal dan dunia batak yang membuatku merasa senang untuk beberapa hal.

Anak Medan....anak medan.....hi..hi..nggak tahu lanjutannya, tapi untuk pesta kedua ini, lagu itu dinyanyikan lagi beberapa kali sesuai permintaan dari yang mau "mangulosi", yang memberikan ulos kepada pengantin.

Ada 2 foto menarik yang ingin kuceritakan;
1. Foto pribadi di awal pesta. Hm..masih semangat dengan situasi pestanya, ketawa dengan sumringah dengan songketnya yang nyesak. Hi..hi..
2. Foto abang dengan sodara sepupunya. Aku senang melihat foto ini karena abang pakai ulos ragi hotang? Semoga nggak salah nyebut nama ulosnya. He..he.

0 komentar:

 
blog template by suckmylolly.com : header image by Vlad Studio