28 Januari 2011

Sambas: Dayung...Perahu Dayung

Satu lagi pengalaman yang menarik ketika pulang ke kampung suami adalah jalan-jalan ke kota Sambas. Tak terbayang kota Sambas seperti apa. Ketika diajak ke kota Sambas, maka yang terbayang adalah perjalanan pasti melintasi pohon-pohon besar di sepanjang perjalanan. Wah....ternyata penonton kecewa nih...yang dilintasi adalah rumah-rumah penduduk dan hm...kelenteng yang berwarna cerah.

Walau tidak menemukan lintasan pohon-pohon besar, aku menikmati perjalanannya koq. Ada kelenteng, ada kebun jeruk yang hijau, sedang tidak berbuah. Ha..ha...kalaupun berbuah, warnanya tidak kuning seperti jeruk Berastagi. Sekali hijau tetap hijau. Itu semboyan dari jeruk Pontianak kali ya. Hm..tepatnya jeruk Singkawang kali ya...

Awalnya, kami datang tidak niat untuk naik perahu, malahan tidak punya gambaran kalau tempat kami singgah itu ada sungai Sambas. Kami ingin melihat istana raja Sambas. Ternyata di depan istana raja terhampar sungai Sambas, yang kata tukang perahunya kedalaman sungai mencapai 11 meter. Hm..kebayang kalo berenang di sungai ini kan? Sayang air sungainya sudah tidak jernih lagi, bisa dikatakan kotor. Walaupun begitu..sambil menunggu istana dibuka, kami naik perahu bersama. Nah..kali ini karena ingin memperlihatkan sungai Sambasnya, maka foto yang dipajang seperti di atas. Keluarga lain tidak terlihat, hanya wajah nongol sedikit dengan latar sungai dan istana raja. Dayung..perahu dayung...nggak terlihat deh.

Ada sekitar 45 menit kami berada di atas perahu di sungai Sambas. Ponakan sama senangnya dengan diriku. Kami bermain dayung...memegang air yang dingin dan menikmati gelombang sungai ketika ada speedboad yang melewati kami. Hm...ayun...terayun...ayun...Satu kata terucap di hati: Thank You, Jesus!

Sekali lagi...mampirlah di Kota Singkawang, nikmati menu makanan dan Hongkongnya Indonesia dan melintaslah ke sungai Sambas dengan perahu dayungnya.

Pantai Pasir Panjang, I'm coming!!

Jumat sore ini teman-teman kantor sudah pada pulang. Kebiasan di akhir minggu kerja. Pulang tepat pada waktunya. Hm...walau sendiri, tapi masih ingin menulis pengalaman di pantai Pasir Panjang, Singkawang. Lagi...lagi..Singkawang. Terbaca kalau sangat menyenangkan libur panjang akhir tahun 2010 di rumah mertua. Ha..ha...bagaimana tidak menyenangkan, mertua dan saudara ipar memberi kebebasan dalam menikmati liburan, bahkan saudara ipar sangat memperhatikan kebutuhan ku untuk pergi jalan-jalan. Trimakasih...trimakasih...

Seperti yang terlihat pada foto di atas. Aku berfoto bersama mertua yang baik hati, saudara ipar yang pengertian, dan ponakan-ponakan yang membuat suasana riuh. Sayang tidak ada suami terlihat di foto. Hm....Ini perjalananku yang kedua kali ke pantai ini. Yang pertama Desember tahun 2008, aku masih ingat kami mengambil tempat dengan leluasa karena tidak terlalu ramai. Kami datang tidak tepat pada tanggal 1 Januari 2009. Kami bisa memilih tempat dengan bebas, memilih di bawah pohon kelapa. Makan dengan tikar digelar, seperti masa kecil dulu berlibur bersama keluarga, bedanya adalah yang satu ini di tepi pantai, sementara masa kecil di pinggiran danau Toba. Dua tempat yang luar biasa menyenangkan.

Akan tetapi tahun ini, kami ke pantai tepat tanggal 1 Januari 2011. Untuk masuk ke dalam saja sudah harus ngantri beberapa kilometer. Panas yang menyengat, membakar kulit. AC mobil seakan tidak cukup. Untunglah akhirnya kami masuk ke area pantai dan masih membutuhkan beberapa waktu untuk bisa mendapatkan tempat parkir mobil dan duduk. Wah...terasa berbeda dengan dua tahun yang lalu. Tahun ini sangat...sangat ramai...Kata sodara ipar, karena kita datang tepat tgl 1 Januari. Memang terlihat banyak tenda yang menunjukkan banyak orang mengingap di tepi pantai menyambut tahun baru 2011.

Aku suka dengan pantai ini karena pantainya bersih dan sepanjang pantai ada banyak pondok-pondok dan pohon besar tempat kita berteduh. Sebelum kami bermain di pantai, kami makan di bawah pohon rindang dengan bekal yang kami bawa dari rumah. Menunya tak lain dan tak bukan si "nguk..nguk...", manisan nenas dan jambu air. Hm...nikmatnya fuang....

Ada yang mau ke pantai Pasir Panjang? Cobalah berkunjung, tak akan menyesal lho.

26 Januari 2011

Satu Menu Favorit: Bakso 68

Rasanya tak habis-habisnya ide untuk menulis apa yang dialami sepanjang akhir tahun 2010 di Kota Singkawang. Pada tulisan kali ini adalah satu menu makanan yang sangat enak rasanya dan menyegarkan. Seperti terlihat di foto, makanan ini sudah sangat umum di negara kita ini, tidak hanya di kota kecil ini. Apa lagi kalau bukan bakso. Akan tetapi bakso yang satu ini berbeda. Don't worry be happy, bakso ini dijamin halal walaupun kota ini dikenal juga sebagai Hongkongnya Indonesia. He..he...

Bakso ini adalah bakso sapi. Yang membuat istimewa bakso ini sebenarnya bukan bakso bulatnya. Kalau rasa bakso bulatnya, hm..sepertinya ada yang lebih enak deh, seperti bakso Lapangan Tembak Senayan, Jakarta (pst...tapi tempatnya yang benaran dekat Senayan ya..kalau di mall kurang nikmat, boleh dong punya pendapat pribadi). Keistimewaan bakso ini adalah pada kualitas mie, baik mie putih maupun mie kuningnya dan kuahnya yang terasa menyegarkan. Biasanya kuah bakso itu enak karena tambahan bumbu penyedap seperti ajinamoto, tetapi kalau kuah bakso yang satu ini berbeda rasanya. Menyegarkan tetapi tidak terasa karena bumbu penyedap ajinamoto, seperti ada perpaduan daun sereh dan lengkuas?? Ha..ha.. tidak tahu pasti sih tapi itu yang terasa di lidah.

Dilihat dari brosurnya sih, sepertinya bakso 68 ini sudah ada di Jakarta, akan tetapi kami belum pernah menikmati bakso 68 ini di Jakarta. Apakah seenak aslinya yang di Singkawang ini ya? Hm..biasanya ada perbedaan, contohnya bakso lapangan tembak senayan: nikmatnya makan bakso senayan saat makan di tempat yang sekitar senayan, kalau di mall...hm...sedikit ada perbedaan.

Foto di samping, saat kami sekeluarga makan bakso bersama. Baksonya uenakkkk dan nikmatnya kasih dalam keluarga dengan tingkah ponakan yang lucu.

Ayo pembaca, cobalah bakso 68 (ha.ha.jadi marketingnya nih).

Hongkongnya Indonesia: Tugu Naga


Kutanya apa nama tugu ini kepada mama Jesy, saudara iparku, dijawab tugu Naga. Hm...walaupu tugu Naga ini masih menjadi sengketa, tetapi aku senang dengan tugu ini. Sayang kepala naganya tidak terekam dalam foto.

Tugu Naga ini seakan semakin mengukuhkan kalau Kota Singkawang adalah Hongkongnya Indonesia. Nuansa cina nya sangat terasa sepanjang kita kelililng kotanya. Ada banyak kelenteng, bahkan di beberapa tempat aku melihat kelenteng dan gereja berdampingan. Pemandangan yang cukup membuatku heran, tetapi itu membuatku melihat dari sisi bahwa Singkawang
adalah Hongkongnya Indonesia.
Hm..bagi pembaca yang tida
k setuju pernyataan bahwa Singkawang adalah Hongkongnya Indonesia, ya..tidak apa-apa koq. He..he..Mungkin ketika sudah berkunjung ke kota ini baru bisa bersepakat dengan pendapatku. Ha..ha..

Dua foto di bawah ini semakin memperlihatkan nuansa cina di kota kecil nan bersih ini. Ini klenteng yang berada di tengah kota. Hm..sangat menarik bukan bahwa klenteng ini persis di tengah Kota Singkawang dan foto yang paling bawah tempat wisata di sore hari, rada temaram tetapi naganya tetap terlihat dengan jelas.

Bisa terlihat juga kebersihan kota kecil ini. Sepanjang mata melihat tidak ada sampah tergeletak di jalan. Aku bertanya-tanya dalam hati dari mana masyarakat ini mengenal kebersihan. Hm...ada yang bisa membantu?

Jika ada waktu dan kesempatan, mampirlah ke Kota Singkawang. Anda pasti mencintai kota kecil nan bersih dan unik.



Menu Pagi Hari: Bubur Tahu

Satu kebiasaan selama berada di rumah mertua adalah bangun pagi jam 5 dan kemudian jalan pagi berdua dengan abang. Ingin mengajak dua ponakan, si ganteng yang ingtrovert dan si cakep yang lincah, akan tetapi sayang kami jalan pagi selalu pagi hari dan keduanya masih lelap dalam tidur.

Setiap pagi kami jalan mengitari Kota Singkawang yang bersih. Rasanya senang sekali mengitari kota ini di pagi hari: bersih dan tenang. Tidak ada rasa bosan di sepanjang perjalanan.

Setiap jalan pagi diakhiri ke pasar pagi. Belanja bahan menu makanan hari ini. Tidak terlalu banyak sehingga ketika pulang tidak terlalu berat bawaannya. Tentunya setelah selesai belanja satu kebiasaan adalah sarapan pagi yang sehat, yaitu bubur tahu. Hm..namanya bubur tahu, berarti bahannya dari kacang kedelai, bahan dasar tahu. Tapi ntah kenapa tahu yang satu ini begitu nikmat dimakan, apalagi ketika masih hangat, sehingga menjadi prilaku baru, sarapan di pasar pagi. Sebelum bubur tahu disantap, hanya masih ditangan saja sudah membuat diriku tertawa cerah. Ha..ha...lebay deh...Coba deh lihat fotoku di atas, terlihat tawa bahagiaku saat menikmati bubur tahu.

Tapi saat menulis ini bukan tawa bahagia, yang ada rasa rindu di dada. Ingin kembali ke Kota Singkawang untuk menikmati saat jalan pagi bersama abang dan menikmati bubur tahu yang murah meriah itu. Bayangkan aja, semangkok dihargai Rp 2.000,-. Akan tetapi tentu saja sekali makan tidak cukuplah semangkok. Ha..ha..minimal dua mangkok yang berarti empat ribu plus...bermangkok-mangkok untuk dinikmati bersama dengan ponakan-ponakan. Ha..ha..

Ayo...ayo..siapa yang mau bubur tahu? Datanglah ke Kota Singkawang, dijamin tidak menyesal.

13 Januari 2011

Ponakan Dengan Helmnya

Aku punya ponakan dari adikku yang paling kecil, ada Galang, Katja, dan Karan. Mereka tinggal di Kota Pelajar, Yogyakarta. Ponakan yang luar biasa. Coba lihat foto yang ada. Lucu sekali bukan?

Entah dari mana ide Katja untuk bermain dengan helm yang sebesar itu. Melihatnya pertama rasanya kwatir, tetapi ketika mereka berlarian dan sangat senang ketika diambil fotonya rasa kwatir itu hilang, percaya bahwa keduanya tidak akan terluka dengan helm besarnya. Hm..jangan-jangan nanti besarnya jadi pembalap deh.

Mereka bisa bermain dengan apa yang ada di sekitarnya, air di kran dan segenggam tanah menjadi mainan yang menarik. Sederetan gambar menjadi cerita yang menarik untuk didengar ketika Katja meninabobokan aku. Ha..ha.. Anak-anak yang kreatif...

Kangen mak tua pada kalian bertiga.....Semoga mak tua dapat segera kembali ke kampung kalian ya, biar kita bisa bermain lagi, mak tua bisa dengarin Katja cerita lagi.

Happy Birthday, Tante Renta


Sungguh suprise di ulang tahunku yang ke-37 ini. Thanks, Jesus....aku bisa menginjakkan kaki di 37 tahunku ini. Bagaimana tidak suprise...rasanya akan sepi karena abang baru kemarin pagi pulang ke kampung halaman, Kota Singkawang. Hm...sendiri deh merayakan ulang tahun, begitu pikiranku.

Pagi hari, abang telpon mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Dalam kantuk, aku bersyukur abang menelpon diriku. Setelah beberapa saat ngobrol, akhirnya aku memutuskan untuk tidur lagi. Ha..ha.."kemerdekaan" di pagi hari berhubung abang nggak di rumah. Aji mumpung...aku memejamkan mata lagi....

Tepat jam tujuh "tok...tok..". Terdengar suara pintu diketuk berulang kali. Aku terdiam. Siapa yang datang pagi hari ya? Lalu, terdengar panggilan: "Tante...tante Renta...". Eh..ponakan yang baik hati datang. Hm..pasti mengucapkan selamat ulangtahun. Lalu aku membuka pintu dan dengan suara tertahan, dia menyanyikan lagu " Happy Birthday" dengan kue ulangtahun. Wah....benar sangat suprise...Lalu dia bercerita kalau dia bernyanyi sambi geli sendiri karena dia tidak punya korek api untuk menghidupkan lilin untuk aku tiup. He..he..

Lalu kami masuk ke rumah dan kami menghidupkan lilin dan make a wish dan meniup lilin. Setelah itu, kami ngobrol banyak hal dan ditutup dengan ponakanku mendoakan wishes yang sudah kunaikan tadi. Doa yang menguatkan hati. Thank you, Tonggie.....

Nyambung dengan acara ulang tahun, kantor menyediakan satu kue ulangtahun untuk merayakan ulangtahunku. Bersyukur bahwa ada bos: Ibu Lisa, Ibu Lia, Bpk. Fauzan, ada TA: Bpk. Owin, Bpk Syamsi, temans: M' Ririn, M'Eny, Mila, Selvi, Nisa, Endah, P'Kas, M'Dipa, P'Tarno, P'Subur, Amir, dan Eko. Ulang tahunku ini diakhiri dengan makan siang bersama dengan menu "Bebek Ginyo". Hm...uah..uah...pedas...tapi nikmat....

Jesus, thanks for everything that You have been giving to me. Ummmmahhhhhhh

Singkawang, Aku Datang....!!!


Ini tulisan pertama di tahun 2011 ini. Hm...rencananya beberapa tulisan termasuk tulisan ini akan ditulis selama aku berada di rumah mertua, Kota Hongkongnya Indonesia, yaitu Kota Singkawang. Mungkin karena semangat akhir tahun dan semangat liburan lebih kental, jadinya begitu banyak ide tulisan belum ditulis deh. He..he..

Pada tulisan ini aku ingin mengenang saat menginjakkan kaki di Kota Singkawang untuk kedua kalinya. Hm..tepatnya di bandara Supadio, Pontianak dulu baru kemudian melanjutkan ke Singkawang. Ternyata terasa juga lama tidak bertemu dengan suami. He..he..jadi ketika dijemput di bandara, mata berbinar-binar gitu deh...Kirain si introvert akan biasa-biasa aja dan mengingat kebiasaannya yang tidak suka mengekspresikan di depan umum, cukup suprise juga dong disambut dengan pelukan hangat di bandara. Hi..hi... dan lebih menyenangkan lagi adalah seluruh keluarga dekat ikut menjemput di bandara, mami, sodara ipar beserta 2 ponakan yang lucu, Maestro dan Tristan, si ganteng dan si cakep, plus kak Elly, sepupu dari suami. Berkat kebaikan hati kak Elly maka aku bisa dijemput dengan keluarga besar abang.

Sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung halaman suami, maka kami mampir ke Rumah Sakit...untuk membayar biaya Rumah Sakit suaminya kak Elly yang sempat dirawat inap cukup lama karena sakit stroke. Sambil menunggu, aku mengambil beberapa foto dua ponakan dan mami di pohon Natal. Hm..rasanya beda natal di Jakarta dengan di Pontianak. Mungkin karena berada diantara keluarga ya. He..he... Oh iya...Ponakan yang hitam manis itu aku sebut si introvert yang ganteng sementara yang putih ceriwis itu aku sebut si presenter. Ha..ha... Baru kenal aja, dia sudah merasa dekat denganku. Pertama dia lihat aku lalu melengos, trus lama-lama cowel tanganku deh...Lucu deh...sementara si abang sangat menikmati pemandangan di luar. Jika dia merasa lucu dengan tingkah adiknya maka dia tertawa.

Keluar dari Rumah Sakit, kami mampir dulu untuk mengisi perut. Ternyata semuanya lapar. Kukira hanya diriku saja yang lapar karena berangkat dari rumah jam 4 subuh, eh..ternyata mereka juga lapar karena nggak sempat sarapan ketika berangkat jam 5 pagi. Makanlah kami di rumah makan ayam remaja. Ha..ha..kalo di Aceh ada ayam tangkap kalo di Pontianak ada ayam remaja dan hm....enak juga...Satu lagi santapan yang dirindu adalah bubur tahu, sayang penjual bubur tahu yang di depan rumah makan itu sudah tidak punya persediaan bubur tahu, jadinya beli air tahu deh...Hm..besok pagi di Singkawang, aku akan makan bubur tahu...

Kota Singkawang...tunggu kedatanganku....

 
blog template by suckmylolly.com : header image by Vlad Studio