25 September 2013

Menghadapi Masa Depan Anda dengan Damai

Saya percaya banyak diantara kita yang memikirkan masa depan, mempersiapkan masa depan, dan pastinya muncul akan kekhawatiran akan masa depan. Bisakah saya katakana 99,9 % diantara kita yang mengkhawatirkan masa depan? Sepertinya iya, tetapi masalahnya adalah berapa persen tingkat kekhawatirannya? Itu yang berbeda dari masing-masing kita.
Pagi ini, aku diajarkan bukan tentang masa depan saja, tetapi bagaimana percaya penuh kepada Allah, dan termasuk salah satunya adalah tentang masa depan kita. Aku belum sampai pada masa depan, tetapi masa sekarang aja…masih kabur bagiku tentang bagaimana mempercayakan diri kepada Allah. Sudah sangat sering mendengar kata percaya kepada Allah. Bagiku, Allah itu pasti menjaga dan memberkati kita ketika kita sudah melakukan bagian kita. Sepanjang kita tidak melakukan bagian kita, bagaimana mungkin Allah menjaga dan memberkati kita? Itu yang kupahami selama ini. Dan aku berkutat dengan apakah aku sudah melakukan bagianku? Misalnya disiplin waktu, displin kerja, tekun, dll…..dan hasilnya adalah aku melihat kegagalan disana sini, tetapi berkat Allah tetap mengalir, tapi selalu muncul ketidakpuasan…”Seandainya aku melakukan ini, melakukan itu…pasti berkatNYA jauh lebih dari yang sekarang”. Wah…pokoke….kegagalan deh yang terlihat.
Tetapi hasil ngobrol dengan kekasih hati (cie..cie…) tadi pagi memberi sudut pandang yang berbeda, bisa dikataka terbalik lagi.
Katanya: “Lho…memang menjadi anak Allah itu enak banget…..Itu nggak bisa dipungkiri (dalam hati menjawab, huh…koq enak benaaar….nggak terima.com). Kemudian dilanjutkannya dengan analogi “ Seperti anak dengan orang tuanya. Sebagai anak, dia nggak perlu selalu minta ini itu kepada ortunya. Ortunya akan memberikan apa yang dibutuhkan tanpa diminta, memang ada saatnya si anak yang meminta. Tapi secara umumnya orang tua akan memberikan apa saja yang dibutuhkan anaknya. Si anak hanya bertugas menjadi anak yang baik dan taat”.
Jawabku: “Nah…menjadi anak yang baik dan taat itu kan sudah merupakan bagian yang dilakukan si anak. Maksudkupun begitu…aku sebagai anak melakukan bagianku”. Lalu dia menjelaskan, tetapi melakukan bagian si anak yang dimaksud tidak lah harus melakukan ini dan itu, tetapi sebagai anak Allah, salah satu bagian yang kita lakukan adalah berdoa dan taat. Sekali lagi dalam hatiku menjawab,”Wuih…enak banget berdoa dan taat aja sudah selesai deh tanggungjawab kita. Nggak perlu melakukan bagian lain seperti yang kumaksud di atas. Wong katanya menjadi anak Allah harus menjadi “the best” (hasil retret Kompak Bertumbuh @ Omah Tembi, 15-16 Septmber 2013).
Lalu dijelaskan lagi, tetapi cara berpikirnya harus dibalik…bagian kita yang pertama sekali kita lakukan adalah: berdoa dan taat….dan yang lain akan menyusul untuk kita dimampukan untuk melakukannya. Contoh…dengan berdoa…maka kita menjadi tenang menghadapi persoalan, kita meletakkan kepercayaan kita kepada Allah. Dengan begitu, secara psikologis aja nih…., hati dan pikiran tenang dan ada kekuatan dan semangat untuk melakukan bagian kita yang lain, misalnya tekun bekerja, cerdik dalam bekerja, dll. Jadi logika berpikirnya dibalik…jangan melakukan ini dan itu dulu baru berdoa dan taat. Justru….berdoa dan taat lebih dulu, kemudian menjadi terbaik dalam bagian lainnya.
So…let’s pray first and then be the best in others action!!!

0 komentar:

 
blog template by suckmylolly.com : header image by Vlad Studio