12 Agustus 2015

Rencana, Suara dan TeguranNYA


Libur Lebaran sangat mengasyikan.  Saya percaya bukan hanya teman yang merayakan hari Lebaran saja yang mengalami rasa penuh sukacita, tetapi juga bagi semua orang yang ikut merasakan dampak dari adanya libur panjang Lebaran, termasuk salah satunya adalah sayaJ

Apa yang membuat saya penuh sukacita? Waw…tentu saja ada begitu banyak waktu untuk istirahatJ dalam bentuk, hm…so pasti nonton film dah…bercengkrama dengan teman. Hm..mau tahu kami kemana saja bersama teman? Salah satunya adalah air terjun Lepo di Kecamatan Imogiri, Kab. Bantul. Bisa lihat betapa bahagianya kami dalam kolam renang alami itu bukan?  Dengan modal 2 mobil, makanan masakan sendiri, dan 80 ribu rupiah J, kami bisa menikmati indahnya alam Imorgiri. 

Di samping itu kami bercengkrama pada hari kedua Lebaran. Ada banyak teman datang dengan membawa makanan seperti: mie goreng, rujak ice cream, walls, coca cola, sprite, kacang garuda, dan tak ketinggalan pudding. Wah…pokoke luar biasa sekali perjamuan kasih di hari kedua LebaranJ Serasa kami yang berlebaran deh, hanya tidak ada ketupat dan opor ayamnya sajaJ
Menjelang libur berakhir, kami malahan di rumah saja. Lho…kenapa?? Hm…salah satu alasanya karena Yogya macet dengan banyaknya pemudik. Eh…saat baca Facebook, benar deh, beberapa teman mengalami kemacetan di beberapa jalan besar kota Yogyakarta.
Nah…lalu, apa dong yang dilakukan di rumah? 2 hari ini kami berdiam diri di rumah, 1 hari dikunjungi teman gereja, namanya Anggy beserta 2 ponakannya, Abe dan Vino, kemudian sehari lagi…ya hari ini….Masing-masing kami dengan lap topnya. Yang satu membaca berita, dan aku….menulis satu tulisan di dalam blogku tentang satu berkat yang kuterima ketika sahabat dan adik sekeluarganya berkunjung ke rumah kami.  Judul tulisanku adalah: “Hemat adalah satu bentuk pertanggungjawaban kepada Sang Pemberi”.  Tinggal klik saja, maka saudara bisa membaca hasil perenunganku itu.
Dan tentunya menulis tulisan ini untuk bahan dalam website pelayanan ini. Mungkin label di awal panjang kali lebar yahJ tetapi yang ingin saya sampaikan adalah tahapan ke…sekian kalinya DIA mengingatkan kami untuk taat terhadap apa yang sudah difirmankanNYA. Hm..apa tuh?? Yah…ini website ini. Sudah berapa lama rencana ini dinyatakan kepada kami dan kami masih “mengabaikannya”. Bentuk mengabaikannya adalah kami tidak melakukan sesuatu yang menunjukan proaktifnya kami.
Tuhan itu adalah Tuhan yang aktif. Dia tidak pernah diam. Sebelum menciptakan alam semesta, dikatakan dalam Kejadian 1: 2 “Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutup samudera raya , dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air”.  Dari ayat itu terlihat bahwa Allah itu tidak diam, sebelum DIA mencipta, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Bergerak…aktif….Itulah Allah kita. Firman ini mengingatkan kami bahwa Allah itu adalah Allah yang aktif, maka DIA menciptakan  manusia juga pasti adalah manusia yang aktif. DIA tidak mau kami berdiam diri, menunggu, pasif.
Setelah ayat ini, dalam 2 hari Saat Teduh kami juga diingatkan bahwa kami sebagai anakNYA perlu mendengarkan suara DIA. Yah…Dia sudah memperdengarkan suaraNYA, tetapi kami hanya mendengar tetapi tidak taat untuk melakukan FirmanNYA. Bentuk tidak ketaatan kami adalah kami berdiam diri, tidak melakukan tindakan-tindakan yang direncenakan dengan baik. Sudah hampir 3 tahun lebih sejak DIA mengeluarkan suaraNYA dan kami masih berdiam diri. 2 hari ini kami ditegur olehNYA. Dengarkan….dan Taatilah…(1 Raja-Raja 12-13) Pesan itu sangat jelas. DIA mau kami untuk ambil langkah dan mentaati apa suaraNYA yang sudah diperdengarkan kepada kami. Oleh karena itu, pagi ini saya mulai menuliskan apa yang perlu dituliskan. Ini adalah bagianku, menulis….mungkin tulisanku belumlah sebagus tulisan para penulis lainnya, tetapi aku punya bakat untuk menulis, maka Tuhan mau aku ambil bagian dalam pelayanan Website ini, menuliskan hasil perenunganku, hasil diskusi kami dalam menjalani kehidupan ini. Tuhan mau pake itu untuk menjangkau orang-orang yang hadir dalam dunia maya.
Apakah tulisan ini memberi warna dalam hidupmu? Semoga tulisan ini dan tulisan lain yang menyusul memberi warna dalam hidupmu dan hidup kami. Itulah tujuan dari pelayanan website ini.

21 Juli 2015

Berakar, Bertumbuh, dan Berbuah dalam Kristus

Selamat ya, Mr Bams, K'Dina, B'Rimma, K'Renta, K'Aster, K'Mario, K'Peter, B'Ramses, P'Seno, dan teman lain yang tidak ada dalam foto:). Terimakasih sudah menjadi rekan kerja Allah dalam KOMPAK, GKI Gejayan periode 12 Juli 2015 - 12 Juli 2016 :) Kompak akan memasuki angkatan ke-11 bulan Agustus 2015, tetapi pembentukan pengurusnya baru bulan ini:) Tidak apa-apa, sebelum ada pengurus, Tuhan mengirimkan B'Rimma dan K'Dina yang perkasa untuk mengurus para anggota yang rindu berakar, bertumbuh, dan berbuah dalam pengenalan akan Kristus, dan sekarang Tuhan kirimkan orang-orang yang memiliki hati melayani untuk berakar, bertumbuh, dan berbuah bersama-sama di KOMPAK:)

Kami adalah orang-orang yang sederhana dan orang-orang yang terus belajar untuk berakar, bertumbuh, dan berbuah dalam pengenalan akan Kristus dalam kehidupan kami. Bukan karena kemampuan, bukan karena kecakapan, dan bukan karena kami adalah orang hebat, tetapi karna kami adalah orang-orang yang rindu dan haus untuk berakar, bertumbuh, dan berbuah bersama dalam pengenalan Kristus dan rindu dan haus untuk mengajak orang-orang juga untuk berakar, bertumbuh, dan berbuah bersama dalam bentuk apapun. Kalaupun dimulai dengan KOMPAK, Puji Tuhan...!!!

Mari bersama kita berakar, bertumbuh dan berbuah bersama melalui KOMPAK dan jika Tuhan mengijinkan terjadilah mimpi besar dari Ibu Rimma bahwa kami dan kamu akan menjadi pengajar-pengajar berakar, bertumbuh, dan berbuah di dalam pengenalan akan Kristus. Menjadi duta-duta Kristus dimanapun Tuhan tempatkan kami dan kamu, tetapi sebelum menjadi duta-dutaNYA, kita diperlengkapi dalam KOMPAK.

Hayukkkk....BERAKAR, BERTUMBUH, DAN BERBUAH bersama di dalam pengenalan akan KASIH KARUNIA KRISTUS!!

Hemat sebagai satu bentuk pertanggungjawaban kepada Sang Pemberi

Siapa yang tak pernah mendengar kata "H E M A T". Saya percaya hampir semua orang yang sudah memperoleh pendapatan mendengar kata tersebut. Saya teringat ketika pertama sekali bekerja dengan gaji bulanan yang "spektakuler" (menurut saya pada saat itu) dan kemudian pesan mamak, "Inang, hati-hati menggunakan uangmu ya. Kalau kau mau, sinilah mamak simpan uangmu sebagian". Hiks....sayang saat itu saya tidak mendengar pesan mamak. Akibatnya, ketika selesai dengan pekerjaan dengan gaji yang spektakuler itu, aku tidak menyimpan apa-apa :( Orang bilang, nasi telah menjadi bubur. 

Kejadian itupun tidak menjadi suatu pembelajaran dalam perjalanan hidupku berikutnya, sampai beberapa minggu lalu, seorang sahabat lama berkunjung dan menginap di rumah untuk 3 malam bersama dengan adik dan keluarganya. Sebelumnya sahabatku ini sudah menceritakan bahwa dia punya adik dan iparnya adalah orang yang sangat "sukses", menjadi saluran berkat bagi keluarga besar. Hm..berapa banyak anak yang menjadi saluran berkat bagi keluarga besarnya? Mungkin banyak, tetapi yang kutahu hanya sedikit anak saja yang menjadi saluran berkat:) 

Nah, berkaitan dengan kehadiran sahabatku dan adik sekeluarganya. Aku kembali diingatkan dengan kata "hemat". Dalam keberhasilan mereka, mereka menjadi keluarga yang bersahaja, tidak terlihat sedikitpun bahwa mereka adalah anak yang menjadi saluran berkat dalam keluarga besar mereka. Salah satu ketidakterlihatan itu adalah bagaimana mereka sangat menghargai makanan. Sebisanya makanan tidak terbuang. Minuman botol yang bersisa pun ketika itu tidak basi, maka mereka akan meminumnya. Hiks...sementara aku dengan gampangnya membuang makanan karena bersisa dan merasa itu sudah tidak enak lagi dimakan. 

Aku jadi berpikir apa makna hemat sebenarnya? Apakah hemat bersaudara dengan kata kikir? Oh..tidak...sangat berbeda. Dengan melihat sahabatku dengan adik sekeluarganya, aku belajar memaknai kata hemat. Hemat berarti menghargai apa yang ada, tidak membuang makanan yang masih bisa dimakan, dan terlebih hemat berarti juga sebagai bentuk pertanggungjawaban kita kepada Sang Pemberi! Hal ini akan membuat kita menyadari bahwa kita adalah pengelola untuk setiap pemberian dari Sang Pemberi.

Yah...apakah kita bisa dikatakan bertanggungjawab kepada Sang Pemberi ketika kita dengan gampangnya membuang makanan/minuman? Ketika kita dengan gampangnya membuang makanan/minuman, tentu itu berhubungan dengan kehidupan kita yang lain. Maksudnya bagaimana kita menggunakan apa saja yang telah diberikan oleh Sang Pemberi. Apa saja yang diberikan oleh Sang pemberi? Makanan, minuman, pakaian, motor, mobil, rumah, benda lain yang kita miliki, waktu, pekerjaan, waktu, suami/istri, anak-anak?? Bagaimana kita memperlakukan/mengelola mereka menjadi terlihat bagaimana kita memaknai arti dari bertanggungjawab kepada Sang Pemberi. Hemat bagi motor, mobil dan benda lain bisa berarti kita merawat dan menggunakannya dengan baik. Hemat bagi suami/istri, anak-anak, sanak saudara berarti kita memperlakukan mereka dengan rasa penghargaan atas kehadiran mereka dalam hidup kita. Hemat bagi pekerjaan berarti kita melakukan pekerjaan kita dengan baik.Hemat bagi waktu berarti kita menggunakan waktu dengan baik.
  Yah...hemat itu bisa ke bagian apa saja dalam hidup kita. Intinya adalah kata "H E M A T" itu menunjukkan bagaimana kita bertanggungjawab kepada segala pemberian dari Sang Pemberi. Pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita percaya bahwa semua yang kita terima adalah pemberian Sang Pemberi? Ketika kita tidak menerima konsep bahwa pemberian itu dari Sang Pemberi, maka menurut saya.....kita menjadi lupa dengan kata "H E M A T".

Bagaimana dengan Saudara? Apakah masih mengingatnya atau sedang lupa dengan kata "H E M A T".

Aplikasi hematku: 
Ada sisa nasi dan kuah sop setelah ada acara di rumah. Biasanya aku akan membuang nasi yang tidak basi, tetapi sudah tidak enak lagi karena sedikit keras dan kuah sop dibuang saja. Pembelajaran dari adik sahabatku itu aku terapkan, sebisanya makanan tidak dibuang. Aha.....aku jadikan bubur nasi dengan kuah sop. Hm....enak....:)

04 Mei 2015

Batas Antara Beranda dan Dalam Rumah



 Saya lahir dan besar dari keluarga Kristen yang berlatar hamba Tuhan. Kakek, bapak, abang ipar dan abang kandung adalah hamba Tuhan. Bahkan saya nyaris kuliah di Theologia Duta Wacana Yogyakarta, tetapi ternyata jalan Tuhan berbeda buat saya sehingga saya “terdampar” di Fakultas Filsafat UGM. Di sana saya mengenal kakak senior, Yahya, yang memperkenalkan saya dengan dengan dunia persekutuan mahasiswa dimana saya mengenal apa itu membaca firman Tuhan setiap hari atau Saat Teduh. Saat saya mendengar bahwa kakak senior bisa membaca dan merenungkan Firman Tuhan dari 15 menit sampai jam-jam an, saya terheran-heran karena ketika saya mencoba membaca Firman Tuhan, hanya bertahan 5 menit dan kemudian terkantuk-kantuk dan akhirnya memilih untuk tidur J Tapi seiring dengan waktu, saya bisa menikmati waktu saat teduh dimana bisa merenungkannya sampai 1 jam an dimana saya menuliskan apa yang saya renungkan dan temukan dalam buku catatan khusus saat teduh. Tapi saya masih ingat satu hal dari semua catatan itu, “Hm…rasanya saya menjadi Kristen itu tidak mandiri. Koq ya….kita bergantung sepenuhnya pada DIA ya? Jadi kita diciptakan menjadi manusia yang bergantung pada DIA. Kalau kita bergantung pada DIA berarti kita adalah orang yang lemah”.
Waktu berjalan, kemudian saya mengenal Pancaran Anugerah melalui bang Ramses. Setahun dia bergabung dengan Pancaran Anugerah cukup banyak perubahan. Ketika ada kesempatan LTC di Malang, dia mengajak saya untuk ikut, begitu juga kordinator Tim Yogyakarta, Ibu Rosa. Tetapi saya mengatakan, “Terimakasih untuk ajakannya! Rasanya saya belum siap mengikuti LTC, karena ketika mengikuti LTC, maka saya pasti “diminta” untuk mengalami suatu perubahan dan saya tidak siap untuk perubahan itu karena secara sadar saya memiliki pemikiran bahwa saya pasti semangat di awal saja, tapi kemudian dalam perjalanan akan melempem lagi dan saya tidak suka dengan situasi itu.
Tapi berkat dukungan Bang Ramses, maka akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti kegiatan LTC di Malang Februari 2015 yang lalu. Untuk bisa hadir tepat waktu merupakan suatu mujizat. Saya dapat informasi, bahwa Pak Dave sangat disiplin dalam hal ketepatan waktuJ Sampai saya akhirnya mengirimkan email kepada Pak Dave meminta ijin jika kemungkinan terlambat datang pada hari pertama LTC. Dengan ijin dari Pak Dave, akhirnya saya baru berani membeli tiket berangkat ke Malang dan Puji Tuhan, saya bisa tepat waktu, 15 menit sebelum acara, saya tiba. Walaupun sessi pertama, saya terkantuk-kantuk mengikuti sessi pertamaJ.
Selama LTC saya mengalami banyak hal. Air mata selalu mengalir saat dalam kelompok kecil maupun saat pribadi. Tapi point yang saya alami adalah berkaitan dengan pengalaman di atas, dimana saya memiliki keengganan untuk menyetujui bahwa sebagai pengikut Kristus, saya menjadi orang yang tergantung pada Tuhan.  Bagi saya, orang yang bergantung pada sesuatu, termasuk Tuhan adalah orang yang lemah dan saya tidak suka melihat diri saya menjadi orang yang lemah. Dalam satu perenungam/sessi selama di LTC, saya menyadari bahwa saya mempersepsi diri saya sebenarnya saya adalah orang yang lemah. Dampak dari persepsi ini adalah saya menjadi orang yang mengeraskan hati untuk tidak mau bergantung pada orang lain dan termasuk DIA. Jadi saya menjadi sadar mengapa ketika saya memiliki masalah atau sedang tertekan mengenai apapun, maka saya justru tidak akan bisa melihat DIA sebagai pribadi yang menolong saya, karena saya menolak DIA hadir dalam hidup saya. Tapi ketika saya baik-baik saja, saya merasa tidak keberatan DIA hadir dalam hidup saya. Oleh karena itu, ketika saya menghadapi masalah, maka saya akan semakin terpuruk dan membutuhkan waktu yang lama untuk bangkit lagi.
Dalam suatu perenungan pribadi di pagi hari di Malang, saya diberikan penglihatan tentang kondisi saya seperti berikut: “ Selama ini saya hanya mengijinkan Yesus hadir di beranda saja. Saat saya baik-baik saja, maka saya akan menemui Yesus di beranda. Kami akan bercakap-cakap dengan asyik, tetapi ketika saya memiliki masalah, maka saya akan masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Saya tidak mengijinkan Yesus masuk ke dalam rumah karena bagi saya ketika saya mengijinkan Yesus masuk ke dalam rumah, maka saya semakin melihat bahwa saya tergantung pada DIA dan saya tergantung pada DIA maka berarti saya adalah orang yang lemah dan saya tidak suka memiliki pemikiran bahwa saya adalah orang yang lemah. Saya menjadi sadar saat itu bahwa selama ini, tersembunyi pemikiran dalam hati saya bahwa Saya tidak suka pada Yesus karena DIA menciptakan saya menjadi orang yang lemah”.
Dengan dukungan dari tim selama di LTC, saya menjadi memiliki pemahaman yang berbeda sekarang bahwa saya diciptakan bukan orang yang lemah, tetapi saya diciptakan amat sangat baik dan bukanlah suatu kelemahan ketika kita memang bergantung pada Yesus bahkan sebagai pengikut Kristus memang saya harusnya saya bergantung sepenuhnya pada Yesus dalam menjalani hari-hari saya.
Setelah kembali dari LTC,  hidup masih berjalan seperti biasa. Masalah bukan menjadi hilang dari kehidupan saya tetapi saya sekarang “membuka pintu masuk bagi Yesus untuk masuk ke dalam rumah dan seisi rumah”. Jadi tidak ada batas lagi antara beranda rumah dan dalam rumah saya. Saya sudah mengajak Yesus masuk ke dalam rumah. Saya masih jatuh bangun tetapi saya tidak menutup pintu hati lagi. Satu indicator perubahan kecil yang terlihat adalah, ketika saya ada masalah dan tertekan dan juga lelah secara fisik, saya tidak cemberut lagi ketika dibangunkan bang Ramses untuk saat teduh bersama. Tapi kadang saya  mengatakan, “ Bang….kan tidak harus setiap pagi saat teduh, kan bisa aja doa saja. Soalnya dalam Alkitab kayaknya nggak ada dibilang bahwa Yesus setiap pagi saat teduh. Kan bisa aja, Yesus hanya doa saja. He…he…
Demikian kesaksian dari saya. Saya akhiri dengan ucapan terima kasih buat tim LTC selama di Malang dan Tuhan Yesus memberkati pelayanan Pancaran Anugerah di Indonesia. Semoga semakin banyak jiwa-jiwa yang dibebaskan dari pemikiran yang menyesatkan yang membuat kita menjadi tidak maksimal dalam mengenal DIA.

03 Mei 2015

Impian Berbagi dengan Anak Sekolah Minggu Pedesaan


Sudah lama sekali aku tidak membuka blog ku ini dan juga sudah lama tidak update tulisan tentunya. Sekilas kulihat tulisanku dan aku senang sekali dengan tulisan terakhir "Antara Aku dan Tuhanku". Menarik ya. Sebenarnya menuliskan segala ide dalam blog ini merupakan kegiatan yang menarik dan tentunya bermanfaat untuk mengasah otak, mengumpulkan pengalaman-pengalaman perjalanan hidup dan juga dengan harapan bisa menjadi manfaat juga bagi orang yang membacanya, siapapun itu:)

Pagi ini, Hari Minggu, 3 Mei 2015, aku terdorong menuliskan apa yang muncul dalam gambaran pikiranku saat aku tadi mengikuti kebaktian pagi hari di GKI Gejayan. Hm.....entah kenapa aku tidak begitu konsen saat mendengarkan kotbah, tapi aku sangat  menikmati setiap pujian dan penyembahannya:) Mungkin  karena aku sedang memikirkan juga tulisan Kesaksian Pribadi yang perlu aku kirimkan ke Pancaran Anugerah, yang seharusnya tanggal 30 April yang lalu. Walaupun aku sudah mengirim email meminta perpanjangan waktu, tetapi rasanya koq merasa bersalah karena dengan keterlambatanku akan mengganggu proses persiapan tim selanjutnya. Maafkan daku ya, mbak Shelfie...:)

Nah lanjut dengan gambaran pikiran tadi dan berkaitan dengan gambar mobil di atas :) Itu masih merupakan gambar saja. Itu  mimpi kami untuk memiliki mobil. Pengennya sih mobil keluarga seperti Avanza, mobil sejuta umat katanya:) atau grand livina, atau bahkan ertiga, tetapi nggak kuat di keuangan. Jadi mimpinya diperkecil lagi menjadi mobil city car. Itu adalah gambar mobil Agya, dari Toyota. Kami sangat berharap bisa memiliki mobil ini segera, tetapi belum bisa dipastikan. Kiranya Tuhan mendengarkan:) AMin.....

Nah, saat di gereja tadi, aku seperti mendapat ide, dengan adanya mobil Agya itu, kami bisa melakukan pelayanan keliling alam pedesaan menuju gereja-gereja kecil yang ada anak sekolah minggunya. Kami bisa menjadi "guru sekolah minggu" dan kemudian berbagi bingkisan kepada anak-anak sekolah minggu. Bentuknya seperti apa, aku nggak tahu. Hanya kepikiran saja, dengan mendapat berkat mobil nantinya, maka bisa menyalurkan berkat itu kepada anak-anak sekolah minggu di pedesaaan. Bentuknya seperti apa, aku ingin share dengan sobatku, Emma yang terbiasa dengan anak-anak kecil pastinya. Dia memiliki bakat dalam dunia anak-anak, pernah menjadi guru. Hm...nantinya menjadi salah satu bahan dalam website pelayanan bang Ramses juga. Semoga...

Update tulisan nih:) setelah diskusi ma sobatku, Emma, ada beberapa masukan dari dia:
1. Memilih 1 gereja sebelumnya dikontak lebih dulu.
2. Persiapkan materi yang mau disampaikan, konsepnya fun.
3. Hubungi teman lain yang memiliki beban pelayanan yang sama.
4. Konsepnya tetap mengajar sekolah minggu tapi berkesan fresh, sehingga menyegarkan anak-anak sekolah minggu lokal.
5. Create nama pelayanan "Praise the Lord".
6. Pikirkan tentang apa yang mau dibagi kepada anak SM, apakah snack atau buku.
7. Cari peluang untuk mencari sponsor.

Matur nuwun, mauliate godang, thank you, sobat...!!!

 
blog template by suckmylolly.com : header image by Vlad Studio