04 Mei 2015

Batas Antara Beranda dan Dalam Rumah



 Saya lahir dan besar dari keluarga Kristen yang berlatar hamba Tuhan. Kakek, bapak, abang ipar dan abang kandung adalah hamba Tuhan. Bahkan saya nyaris kuliah di Theologia Duta Wacana Yogyakarta, tetapi ternyata jalan Tuhan berbeda buat saya sehingga saya “terdampar” di Fakultas Filsafat UGM. Di sana saya mengenal kakak senior, Yahya, yang memperkenalkan saya dengan dengan dunia persekutuan mahasiswa dimana saya mengenal apa itu membaca firman Tuhan setiap hari atau Saat Teduh. Saat saya mendengar bahwa kakak senior bisa membaca dan merenungkan Firman Tuhan dari 15 menit sampai jam-jam an, saya terheran-heran karena ketika saya mencoba membaca Firman Tuhan, hanya bertahan 5 menit dan kemudian terkantuk-kantuk dan akhirnya memilih untuk tidur J Tapi seiring dengan waktu, saya bisa menikmati waktu saat teduh dimana bisa merenungkannya sampai 1 jam an dimana saya menuliskan apa yang saya renungkan dan temukan dalam buku catatan khusus saat teduh. Tapi saya masih ingat satu hal dari semua catatan itu, “Hm…rasanya saya menjadi Kristen itu tidak mandiri. Koq ya….kita bergantung sepenuhnya pada DIA ya? Jadi kita diciptakan menjadi manusia yang bergantung pada DIA. Kalau kita bergantung pada DIA berarti kita adalah orang yang lemah”.
Waktu berjalan, kemudian saya mengenal Pancaran Anugerah melalui bang Ramses. Setahun dia bergabung dengan Pancaran Anugerah cukup banyak perubahan. Ketika ada kesempatan LTC di Malang, dia mengajak saya untuk ikut, begitu juga kordinator Tim Yogyakarta, Ibu Rosa. Tetapi saya mengatakan, “Terimakasih untuk ajakannya! Rasanya saya belum siap mengikuti LTC, karena ketika mengikuti LTC, maka saya pasti “diminta” untuk mengalami suatu perubahan dan saya tidak siap untuk perubahan itu karena secara sadar saya memiliki pemikiran bahwa saya pasti semangat di awal saja, tapi kemudian dalam perjalanan akan melempem lagi dan saya tidak suka dengan situasi itu.
Tapi berkat dukungan Bang Ramses, maka akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti kegiatan LTC di Malang Februari 2015 yang lalu. Untuk bisa hadir tepat waktu merupakan suatu mujizat. Saya dapat informasi, bahwa Pak Dave sangat disiplin dalam hal ketepatan waktuJ Sampai saya akhirnya mengirimkan email kepada Pak Dave meminta ijin jika kemungkinan terlambat datang pada hari pertama LTC. Dengan ijin dari Pak Dave, akhirnya saya baru berani membeli tiket berangkat ke Malang dan Puji Tuhan, saya bisa tepat waktu, 15 menit sebelum acara, saya tiba. Walaupun sessi pertama, saya terkantuk-kantuk mengikuti sessi pertamaJ.
Selama LTC saya mengalami banyak hal. Air mata selalu mengalir saat dalam kelompok kecil maupun saat pribadi. Tapi point yang saya alami adalah berkaitan dengan pengalaman di atas, dimana saya memiliki keengganan untuk menyetujui bahwa sebagai pengikut Kristus, saya menjadi orang yang tergantung pada Tuhan.  Bagi saya, orang yang bergantung pada sesuatu, termasuk Tuhan adalah orang yang lemah dan saya tidak suka melihat diri saya menjadi orang yang lemah. Dalam satu perenungam/sessi selama di LTC, saya menyadari bahwa saya mempersepsi diri saya sebenarnya saya adalah orang yang lemah. Dampak dari persepsi ini adalah saya menjadi orang yang mengeraskan hati untuk tidak mau bergantung pada orang lain dan termasuk DIA. Jadi saya menjadi sadar mengapa ketika saya memiliki masalah atau sedang tertekan mengenai apapun, maka saya justru tidak akan bisa melihat DIA sebagai pribadi yang menolong saya, karena saya menolak DIA hadir dalam hidup saya. Tapi ketika saya baik-baik saja, saya merasa tidak keberatan DIA hadir dalam hidup saya. Oleh karena itu, ketika saya menghadapi masalah, maka saya akan semakin terpuruk dan membutuhkan waktu yang lama untuk bangkit lagi.
Dalam suatu perenungan pribadi di pagi hari di Malang, saya diberikan penglihatan tentang kondisi saya seperti berikut: “ Selama ini saya hanya mengijinkan Yesus hadir di beranda saja. Saat saya baik-baik saja, maka saya akan menemui Yesus di beranda. Kami akan bercakap-cakap dengan asyik, tetapi ketika saya memiliki masalah, maka saya akan masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Saya tidak mengijinkan Yesus masuk ke dalam rumah karena bagi saya ketika saya mengijinkan Yesus masuk ke dalam rumah, maka saya semakin melihat bahwa saya tergantung pada DIA dan saya tergantung pada DIA maka berarti saya adalah orang yang lemah dan saya tidak suka memiliki pemikiran bahwa saya adalah orang yang lemah. Saya menjadi sadar saat itu bahwa selama ini, tersembunyi pemikiran dalam hati saya bahwa Saya tidak suka pada Yesus karena DIA menciptakan saya menjadi orang yang lemah”.
Dengan dukungan dari tim selama di LTC, saya menjadi memiliki pemahaman yang berbeda sekarang bahwa saya diciptakan bukan orang yang lemah, tetapi saya diciptakan amat sangat baik dan bukanlah suatu kelemahan ketika kita memang bergantung pada Yesus bahkan sebagai pengikut Kristus memang saya harusnya saya bergantung sepenuhnya pada Yesus dalam menjalani hari-hari saya.
Setelah kembali dari LTC,  hidup masih berjalan seperti biasa. Masalah bukan menjadi hilang dari kehidupan saya tetapi saya sekarang “membuka pintu masuk bagi Yesus untuk masuk ke dalam rumah dan seisi rumah”. Jadi tidak ada batas lagi antara beranda rumah dan dalam rumah saya. Saya sudah mengajak Yesus masuk ke dalam rumah. Saya masih jatuh bangun tetapi saya tidak menutup pintu hati lagi. Satu indicator perubahan kecil yang terlihat adalah, ketika saya ada masalah dan tertekan dan juga lelah secara fisik, saya tidak cemberut lagi ketika dibangunkan bang Ramses untuk saat teduh bersama. Tapi kadang saya  mengatakan, “ Bang….kan tidak harus setiap pagi saat teduh, kan bisa aja doa saja. Soalnya dalam Alkitab kayaknya nggak ada dibilang bahwa Yesus setiap pagi saat teduh. Kan bisa aja, Yesus hanya doa saja. He…he…
Demikian kesaksian dari saya. Saya akhiri dengan ucapan terima kasih buat tim LTC selama di Malang dan Tuhan Yesus memberkati pelayanan Pancaran Anugerah di Indonesia. Semoga semakin banyak jiwa-jiwa yang dibebaskan dari pemikiran yang menyesatkan yang membuat kita menjadi tidak maksimal dalam mengenal DIA.

03 Mei 2015

Impian Berbagi dengan Anak Sekolah Minggu Pedesaan


Sudah lama sekali aku tidak membuka blog ku ini dan juga sudah lama tidak update tulisan tentunya. Sekilas kulihat tulisanku dan aku senang sekali dengan tulisan terakhir "Antara Aku dan Tuhanku". Menarik ya. Sebenarnya menuliskan segala ide dalam blog ini merupakan kegiatan yang menarik dan tentunya bermanfaat untuk mengasah otak, mengumpulkan pengalaman-pengalaman perjalanan hidup dan juga dengan harapan bisa menjadi manfaat juga bagi orang yang membacanya, siapapun itu:)

Pagi ini, Hari Minggu, 3 Mei 2015, aku terdorong menuliskan apa yang muncul dalam gambaran pikiranku saat aku tadi mengikuti kebaktian pagi hari di GKI Gejayan. Hm.....entah kenapa aku tidak begitu konsen saat mendengarkan kotbah, tapi aku sangat  menikmati setiap pujian dan penyembahannya:) Mungkin  karena aku sedang memikirkan juga tulisan Kesaksian Pribadi yang perlu aku kirimkan ke Pancaran Anugerah, yang seharusnya tanggal 30 April yang lalu. Walaupun aku sudah mengirim email meminta perpanjangan waktu, tetapi rasanya koq merasa bersalah karena dengan keterlambatanku akan mengganggu proses persiapan tim selanjutnya. Maafkan daku ya, mbak Shelfie...:)

Nah lanjut dengan gambaran pikiran tadi dan berkaitan dengan gambar mobil di atas :) Itu masih merupakan gambar saja. Itu  mimpi kami untuk memiliki mobil. Pengennya sih mobil keluarga seperti Avanza, mobil sejuta umat katanya:) atau grand livina, atau bahkan ertiga, tetapi nggak kuat di keuangan. Jadi mimpinya diperkecil lagi menjadi mobil city car. Itu adalah gambar mobil Agya, dari Toyota. Kami sangat berharap bisa memiliki mobil ini segera, tetapi belum bisa dipastikan. Kiranya Tuhan mendengarkan:) AMin.....

Nah, saat di gereja tadi, aku seperti mendapat ide, dengan adanya mobil Agya itu, kami bisa melakukan pelayanan keliling alam pedesaan menuju gereja-gereja kecil yang ada anak sekolah minggunya. Kami bisa menjadi "guru sekolah minggu" dan kemudian berbagi bingkisan kepada anak-anak sekolah minggu. Bentuknya seperti apa, aku nggak tahu. Hanya kepikiran saja, dengan mendapat berkat mobil nantinya, maka bisa menyalurkan berkat itu kepada anak-anak sekolah minggu di pedesaaan. Bentuknya seperti apa, aku ingin share dengan sobatku, Emma yang terbiasa dengan anak-anak kecil pastinya. Dia memiliki bakat dalam dunia anak-anak, pernah menjadi guru. Hm...nantinya menjadi salah satu bahan dalam website pelayanan bang Ramses juga. Semoga...

Update tulisan nih:) setelah diskusi ma sobatku, Emma, ada beberapa masukan dari dia:
1. Memilih 1 gereja sebelumnya dikontak lebih dulu.
2. Persiapkan materi yang mau disampaikan, konsepnya fun.
3. Hubungi teman lain yang memiliki beban pelayanan yang sama.
4. Konsepnya tetap mengajar sekolah minggu tapi berkesan fresh, sehingga menyegarkan anak-anak sekolah minggu lokal.
5. Create nama pelayanan "Praise the Lord".
6. Pikirkan tentang apa yang mau dibagi kepada anak SM, apakah snack atau buku.
7. Cari peluang untuk mencari sponsor.

Matur nuwun, mauliate godang, thank you, sobat...!!!

 
blog template by suckmylolly.com : header image by Vlad Studio