21 Juli 2015

Hemat sebagai satu bentuk pertanggungjawaban kepada Sang Pemberi

Siapa yang tak pernah mendengar kata "H E M A T". Saya percaya hampir semua orang yang sudah memperoleh pendapatan mendengar kata tersebut. Saya teringat ketika pertama sekali bekerja dengan gaji bulanan yang "spektakuler" (menurut saya pada saat itu) dan kemudian pesan mamak, "Inang, hati-hati menggunakan uangmu ya. Kalau kau mau, sinilah mamak simpan uangmu sebagian". Hiks....sayang saat itu saya tidak mendengar pesan mamak. Akibatnya, ketika selesai dengan pekerjaan dengan gaji yang spektakuler itu, aku tidak menyimpan apa-apa :( Orang bilang, nasi telah menjadi bubur. 

Kejadian itupun tidak menjadi suatu pembelajaran dalam perjalanan hidupku berikutnya, sampai beberapa minggu lalu, seorang sahabat lama berkunjung dan menginap di rumah untuk 3 malam bersama dengan adik dan keluarganya. Sebelumnya sahabatku ini sudah menceritakan bahwa dia punya adik dan iparnya adalah orang yang sangat "sukses", menjadi saluran berkat bagi keluarga besar. Hm..berapa banyak anak yang menjadi saluran berkat bagi keluarga besarnya? Mungkin banyak, tetapi yang kutahu hanya sedikit anak saja yang menjadi saluran berkat:) 

Nah, berkaitan dengan kehadiran sahabatku dan adik sekeluarganya. Aku kembali diingatkan dengan kata "hemat". Dalam keberhasilan mereka, mereka menjadi keluarga yang bersahaja, tidak terlihat sedikitpun bahwa mereka adalah anak yang menjadi saluran berkat dalam keluarga besar mereka. Salah satu ketidakterlihatan itu adalah bagaimana mereka sangat menghargai makanan. Sebisanya makanan tidak terbuang. Minuman botol yang bersisa pun ketika itu tidak basi, maka mereka akan meminumnya. Hiks...sementara aku dengan gampangnya membuang makanan karena bersisa dan merasa itu sudah tidak enak lagi dimakan. 

Aku jadi berpikir apa makna hemat sebenarnya? Apakah hemat bersaudara dengan kata kikir? Oh..tidak...sangat berbeda. Dengan melihat sahabatku dengan adik sekeluarganya, aku belajar memaknai kata hemat. Hemat berarti menghargai apa yang ada, tidak membuang makanan yang masih bisa dimakan, dan terlebih hemat berarti juga sebagai bentuk pertanggungjawaban kita kepada Sang Pemberi! Hal ini akan membuat kita menyadari bahwa kita adalah pengelola untuk setiap pemberian dari Sang Pemberi.

Yah...apakah kita bisa dikatakan bertanggungjawab kepada Sang Pemberi ketika kita dengan gampangnya membuang makanan/minuman? Ketika kita dengan gampangnya membuang makanan/minuman, tentu itu berhubungan dengan kehidupan kita yang lain. Maksudnya bagaimana kita menggunakan apa saja yang telah diberikan oleh Sang Pemberi. Apa saja yang diberikan oleh Sang pemberi? Makanan, minuman, pakaian, motor, mobil, rumah, benda lain yang kita miliki, waktu, pekerjaan, waktu, suami/istri, anak-anak?? Bagaimana kita memperlakukan/mengelola mereka menjadi terlihat bagaimana kita memaknai arti dari bertanggungjawab kepada Sang Pemberi. Hemat bagi motor, mobil dan benda lain bisa berarti kita merawat dan menggunakannya dengan baik. Hemat bagi suami/istri, anak-anak, sanak saudara berarti kita memperlakukan mereka dengan rasa penghargaan atas kehadiran mereka dalam hidup kita. Hemat bagi pekerjaan berarti kita melakukan pekerjaan kita dengan baik.Hemat bagi waktu berarti kita menggunakan waktu dengan baik.
  Yah...hemat itu bisa ke bagian apa saja dalam hidup kita. Intinya adalah kata "H E M A T" itu menunjukkan bagaimana kita bertanggungjawab kepada segala pemberian dari Sang Pemberi. Pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita percaya bahwa semua yang kita terima adalah pemberian Sang Pemberi? Ketika kita tidak menerima konsep bahwa pemberian itu dari Sang Pemberi, maka menurut saya.....kita menjadi lupa dengan kata "H E M A T".

Bagaimana dengan Saudara? Apakah masih mengingatnya atau sedang lupa dengan kata "H E M A T".

Aplikasi hematku: 
Ada sisa nasi dan kuah sop setelah ada acara di rumah. Biasanya aku akan membuang nasi yang tidak basi, tetapi sudah tidak enak lagi karena sedikit keras dan kuah sop dibuang saja. Pembelajaran dari adik sahabatku itu aku terapkan, sebisanya makanan tidak dibuang. Aha.....aku jadikan bubur nasi dengan kuah sop. Hm....enak....:)

0 komentar:

 
blog template by suckmylolly.com : header image by Vlad Studio