26 Januari 2017

Penghematan ala Voucher Parsley :)

Tadi terinspirasi menulis tentang tahun penghematan karena ingat dengan kejadian voucher yang kami dapat dari salah satu bank pemerintah. Voucher itu membuat kami mengambil keputusan untuk menggunakannya tadi malam dan makanlah kami di Parsley, jalan Kaliurang.Tidak ada yang salah dengan voucher itu, masih berlaku koq:) Hanya aku jadi terinspirasi menulis tulisan dengan judul tahun penghematan karena jadi merasa perlu menuliskannya agar menjadi pengingat dalam proses belajar menghemat tahun 2017 ini karena kegagalan melakukan penghematan dalam makan malam tadi. Dimanakah letak kegagalan penghematan voucher tersebut? Ini dia ceritanya, tapi sebelumnya, coba lihat foto di bawah ini. Apa yang salah?


Hm...tidak ada yang salah dengan voucher maupuan makanananya. Pilihan makananya adalah nasi goreng ikan teri dengan segelas chocolate houten dan sop tulang iga bakar dengan segelas cappucino. Makanannya enak dan kami menikmatinya. Nah...yang salah dalam moment ini terkait dengan tulisan tahun penghematan adalah....hi..hi...jadi malu. Kan ceritanya kalau mau makan di luar itu, pilihannya nggaklah makan nasi....kedua kalau makan di luar itu bukan karena laper.....ketiga kalau makan di luar itu disesuaikan budgetnya. Ha..ha...ketiganya gagal, bok. Lha gimana....??

Lha iyah...Tadi ceritanya kan mau keluar bukan khusus untuk memanfaatkan voucher tersebut, tetapi tujuan pertama adalah untuk mengirim jualan si abang, lah...JNE sudah tutup, nah, tujuan kedua adalah makan di Parsley. Saat duduk di meja makan, lupa deh sama kesepakatan bersama bahwa ketika makan di luar maka menunya bukanlah makanan yang mengenyangkan rasa lapar alias nasi, tetapi menu di luar nasi, misalnya pizzakah, pastakah, saladkah, kopikah, kuekah. Lha ini pilihannya adalah nasi goreng dan sop iga bakar karena jam makan malam dimana tadi sebelum keluar rumah tidak makan di rumah dulu. Jadi karena perut dalam keadaan laper, maka mata tertuju pada menu makanan yang mengenyangkan deh....:) Dan berikutnya adalah....budget makanannya...yah, ndak banyaklah ya karena kan sudah menggunakan voucher 100 ribu, jadi paling ntar nambah 10 - 20 ribulah dan ternyata saudara...saudara.....hiks...60 rebo.....setelah dikurangi voucher 100 rebo itu.

Jadi gagallah cerita mau menerapkan penghematan ala voucher Parsley Jakal ini:( Jadi pembelajaran dari kejadian ini menginspirasiku untuk menuliskan tulisan sebelum ini dengan judul tahun penghematan dengan harapan, dengan menuliskannya, maka ide-ide penghematan itu menjadi nglotok di otak sehingga ada sinyal "warning" saat ada situasi seperti di atas:) Hm....mari mengingat-ingat strategi-strategi yang sudah dituliskan agar benar dapat diterapkan:)

Tahun Penghematan

Proses tahun lalu membuat aku berpikir arti dari kata menghemat. Salah satu kakakku melihat bagaimana gaya hidup kami sangatlah boros, bukan hanya boros, tetapi sangat boros. Sampai-sampai dia mengatakan bahwa nggak bakalan bisa kami "kaya" kalau masih hidup dengan gaya hidup boros tersebut. Dia mengatakan itu langsung kepadaku dan juga kepada bapak dan emakku:) Awalnya, aku sebel dan kesel dengan apa yang disampaikan karena dua alasan, yang pertama adalah aku merasa tidak boros lho, aku merasa mengeluarkan uang sesuai dengan keperluan dan idih...kakak inilah, aku udah gede seperti ini masih "dicerewetin".

Hm....beberapa saat aku terbawa perasaan jengkel tersebut, tetapi setelah bapak dan emakku menyampaikan hal tersebut kepadaku dan akhirnya aku melakukan evaluasi terhadap diriku. Mosok sih setelah 5 tahun bekerja di monitoring dan evaluasi, tetapi tidak mampu mengevaluasi diri, apalagi setelah mendapatkan "kritikan sayang" dari orang yang sayang dan perduli sama kita? Kalau kritikan itu datang dari orang yang membenci kita ya, itu aja masih perlu dipikirkan sebagai bentuk mawas diri, apalagi kritikan datang dari orang yang sudah sangat jelas sayang dan perduli sama kita. So...trimakasih ya, kakak sayang...:)

Kemudian aku mengingat bagaimana kehidupan beberapa orang terdekat dalam hidupku juga melakukan hal yang sama, penghematan dalam hidup mereka tanpa kehilangan hati untuk selalu memberi dengan cara dan waktu yang tepat. Bahkan dalam segala kekurangan mereka, mereka bisa berhemat dan bisa tetap memberi. Siapakah mereka? Hm....ada deh....Tapi dalam evaluasi diri di awal tahun ini, aku mengingat mereka dan melihat bagaiamana cara mereka melakukan penghematan dan melihat ke diriku. Hiks....hiks...ternyata aku memang sangat boros, persis seperti apa yang dikatakan oleh kakakku. Jadi tahun ini adalah tahun belajar penghematan. Bagaimana cara penghematannya? Inilah beberapa cara "sederhana" yang aku belajar dari beberapa orang yang sudah membuktikan hidup mereka dalam berhemat dimana aku masih belum melakukannya yaitu:
1. Belanja harian --isi kulkas

  •  Yup...betapa sering bahan dan makanan kami terbuang karena membusuk di kulkas. Bahan makanan yang dimaksud adalah sayur-sayuran, buah-buahan, bumbu dapur, dll. Belanja tanpa berpikir secara matang apa yang harus dibeli. Salah satu sahabat menyarankan agar sebelum belanja ke pasar maka sebaiknya cek lebih dahulu isi kulkas sehingga mengetahui dengan persis apa yang masih ada di kulkas dan apa yang perlu dibeli di pasar. 
  • Yang kedua adalah makanan yang diperoleh dari luar. Tahun lalu begitu banyak berkat makanan dari pekerjaan dan juga dari gereja. Kami sering mendapat makanan dari pertemuan-pertemuan di pekerjaan dan gereja. Hiks...selama ini aku tidak melihat itu sebagai berkat yang perlu disyukuri sehingga tidak menghargai makanan tersebut dan berdampak bagaimana makanan itu masuk kulkas dan seingatnya aja untuk dimakan atau bisa dikatakan seringnya malahan membusuk di dalam kulkas:(. Sekarang, aku belajar bagaimana setiap makanan yang kuterima akan kusimpan dalam kulkas dan kemudian menjadikan salah satu menu makanan harian. Jadi ketika ada nasi kotak beserta lauk pauknya, maka aku perlu memikirkan apakah keesokan harinya perlu masak menu baru atau sudah cukupkah nasi kotak itu untuk makan siang? Jika sudah cukup, maka tidak perlu masak menu baru, sedangkan untuk menu malam aku memikirkan menu masakan yang sederhana yang tidak membuat serepot masak di pagi hari, misal telur dadar.

2. Makan di luar
  •  Well....selama ini betapa mudahnya kami memutuskan untuk makan di luar, sementara ada lho makanan di rumah, tentu dengan alasan, aku dah capek bekerja dan jadinya malas masak. Jadi nggak apa-apa deh makan di luar, lagian makan makanan sederhana aja koq di luar dan tidak mahal-mahal amat, misalnya nasi padang, pecel lele, bakso atau mie ayam. Hm....kalau dalam seminggu aja 5 kali makan di luar, hayoo..sudah berapa puluh ribu habis toh?? Trus...kalikan berapa minggu dalam sebulan, dalam setahun?? Wah....kesadaran ini muncul ketika membaca buku " The Secret of Wealth Managemen". Buku yang sudah sangat lama dibeli si abang, tetapi baru kubaca di awal tahun 2017:) Nah, coba kalau konsisten makan di rumah, selain sehat, ya murah juga toh.... Jadi....sekarang kami memutuskan bahwa ketika makan di luar dengan alasan bukan karena malas memasak dan makan karena laper, tetapi karena ingin menikmati suasana rileks dengan menu makanan yang tidak berupa nasi, tetapi jenis makanan yang berbeda, misalnya pizza, salad, kopi beserta kue-kue-an:) Oleh karena itu, strateginya sebelum keluar rumah pada jam lapar, maka makan nasi dulu di rumah dong Apabila pengen menikmati suasana, ya...minum segelas kopi atau coklat hangat, bolehlah...:) 
  • Selama ini biaya untuk makan di luar nggak diperhitungkan sama sekali. Pokoknya merasa perlu  makan di luar, ya...ayuk makan di luar:) Tetapi sekarang, kami membuat budget untuk makan di luar perbulannya berapa. Jika sudah di atas budget, ya...tahan diri untuk tidak makan di luar:)
3. Belanja Bulanan
  • Sangat mudah tergoda untuk membeli ini dan itu ketika berada di supermarket, apalagi momentnya adalah moment belanja bulanan. Yuhui....asyik....ambil sana, ambil sini tanpa merasa bersalah dan perhitungan karena memiliki pemikiran "ini adalah suatu kebutuhan bulanan, ya...jadi perlu dibelilah". Apalagi kalau ada discount, wah...gila deh...aji mumpung discount berlakulah, sementara sebenarnya masih cukup banyak tersedia di rumah. Saat tiba pembayaran.....mak jleb...koq belanjanya mahal banget sih? Nah, aku belajar dari salah satu adikku yang sudah membuktikan dia berhemat dalam hidupnya, even dia punya pendapatan yang banyak (menurutku sih, soalnya pekerjaannya bagus:) Tapi sebagus apapun pekerjaan kalau tidak pandai mengelola keuangan, kayaknya ndak bisa deh jalan-jalan ke Korea, Eropa, Jepang, Yerusalem, beuh...dah kemana-mana dan sudah punya rumah dan mobil dan modal untuk buka supermarket. Hayo coba....kalau bukan karena pandai mengelola keuangan, nggak bakalan deh bisa....Nah, aku belajar dari dia tentang aji mumpung discount ini. Jangan mudah tergoda aji mumpung discount, kita tetap perlu menghitung, jatuhnya berapa sih sebenarnya? Bila perlu dihitung pakai kalkulator. Jaman gini kan di HP sudah ada kalkulatornya toh dan ndak perlu malu lho berhitung:)
  • Yang kedua adalah saat belanja bulanan, lihatlah dulu kebutuhan selama sebulan dan cek di rumah apa yang tidak ada lagi dan buatlah list dalam belanja bulanan. 
4. Refresing
  • Wah....dalam refresing aja ada kiat-kiat untuk berhemat lho. Ini aku belajar dari salah satu teman kerja. Refresing itu tidak harus melakukan kegiatan yang mengeluarkan uang banyak lho, misalnya nonton sabtu minggu yang dah jelas banget lebih mahal harganya dari hari-hari biasa, apalagi pekerjaan kami itu ndak Senin-Jumat, jadi tentu lebih fleksibel hari untuk menonton. Kata si abang, yang murah itu setiap hari Selasa. Ha..ha...
  • Kemudian ambilah kegiatan refresing yang lebih murah, misalnya kalau tadinya refresing itu hampir tiap minggu jalan-jalan di mall, sekarang dikurangilah menjadi dua kali dalam sebulan, bila perlu sekali sebulan aja. Lha...setiap jalan ke mall pasti godaannya banyak dunk. Atau pilihlah kegiatan lain, misalnya jalan sore, naik sepeda sore, berkunjung ke rumah teman. Nah ini malahan sangat bagus, selain refresing bagi diri kita sendiri, kita juga meningkatkan hubungan dengan teman, bukan? Biaya yang keluar paling bensin dan sejumlah uang untuk buah tangan, ndak perlu mahal toh buah tangannya:)
  • Biaya nonton itu jangan dibuat budget tersendiri lagi, tetapi dari beberapa alternatif, misalnya, jika dirasa perlu menonton di bioskop karena ada film yang pas di hati, ya....ambillah dana dari makan di luar. Konsekuensinya biaya makan di luar berkurang dong:) Ya...tahan diri sampai bulan depan untuk makan di luar:) Alternatif kedua adalah menontonlah ketika ada sisa budget bulanan di akhir bulan:) Dengan demikian, kita menonton dari kelebihan budget bulanan. So...itu menolong kita untuk tidak dengan begitu mudahnya ambil keputusan nonton di bioskop:)
5.  Menabung/Investasi - Berhutang yang Baik
  •  Nah..ini salah satu saran dari buku yang kubaca dalam buku " The Secret of Wealth Managemen". Sebelum melangkah ke menabung/investasi ini, pertama dia bicara tentang hal-hal bagaimana melakukan penghematan, salah satunya yang disebutkan di atas, benar-benar menghitung pengeluaran harian dan bulanan, sampai pada menghitung makan di luar lho:) 
  • Yang kedua adalah bagaimana memiliki hutang yang baik dengan memperhitungkan kemampuan membayar hutangnya. Misalnya nih, kita merasa perlu berhutang untuk membeli mobil. Nah...perlu dipikir benar apakah mobil itu suatu kebutuhan atau hanya sebatas keinginan memiliki mobil untuk bersenang-senang? Bagaimana membedakan mobil itu sebagai kebutuhan atau hanya keinginan kesenangan saja? Sepertinya contoh yang kami alami bisa jadi contoh nih:) Sebelum punya mobil, kami sudah lama punya keinginan punya mobil, tetapi memang uang tak ada pula:) dan sudah jelas tidak menjadi kebutuhan karena pekerjaan kami hanya di rumah, tidak mengharuskan punya mobil, kemana -mana bisa dengan motor toh. Tapi kemudian di awal tahun 2015, aku dapat pekerjaan yang mengharuskan aku bolak balik ke Kab. Bantul dan Kab. Kulon Progo. Hampir tiap hari ke salah satu kabupaten tersebut. Ya, untuk Kab. Bantul masih beranilah untuk naik motor, tetapi kalau ke Kab. Kulon Progo? Waw...aku sudah mencoba beberapa kali ke sana, hasilnya? Cuapeks...dan ngantuk di jalan, tingkat keamanan menjadi sangat beresiko. Hm...Setelah beberapa bulan, akhirnya berpikirlah untuk membeli mobil second apa adanya, sing penting bisa jalan. Ha..ha...Jadi dari sisi kebutuhan, menurut buku tersebut, itu adalah kebutuhan, bukan keinginan semata. Tapi berikutnya perlu diperhitungkan kemampuan membayar mobilnya jika harus berhutang:) Setelah dipertimbangkan, rasanya dalam dua tahun masa kontrak kerja, masih memungkinkan untuk membayar tiap bulan karena ada biaya transportasi yang cukup untuk membayar kredit bulanan. Lha tapi masalahnya kontraknya hanya 2 tahun dan ini sudah berjalan beberapa bulan, trus...2-3 tahun sisanya bagaimana dong? Lha...ini menjadi salah satu yang perlu dipertimbangkan ketika mengambil keputusan untuk berhutang dalam memenuhi keperluan membeli mobil. Hm....pusing deh kepala barbie....Dan....itulah namanya berkat Tuhan ya...dalam kepusingan memikirkan jika jadi kredit mobil dan bagaimana pembayaran sisa 2-3 tahun bayar kredit bulanan, Tuhan memberikan jalan yang penuh keajaiban. Bagaimana tidak ajaib....Kami beli mobil second hanya mengeluarkan dana cash bisa dikatakan hanya 23% dari totalnya, selebihnya meminjam dengan tanpa bunga atas kebaikan dari dua saudara yang luar biasa baiknya. Wah...ndak nyangka sama sekali jalan Tuhan. Maka...jadilah kami membeli mobil second tersebut. Mengenai pembayarannya? Nah...ini dia....harusnya menurut buku tersebut, tetaplah dianggarkan biaya pembayaran hutang setiap bulan sesuai dengan kapasitas setelah diperhitungan biaya bulanan. Harusnya demikian....tetapi sampai tahun kemarin kami tidak bijak dalam membayar hutang, jadi hutang masih menumpuk:) Kadang hutang lunak membuat kita menjadi tidak bertanggungjawab. Tapi syukurlah akhir tahun kemarin sudah bisa melunasi 1/2 dari hutang ke salah satu saudara tersebut, dan lagi-lagi karna berkat Tuhan lagi:) Aih....jadi ingat bahwa tahun 2016 tahun penuh "angin ribut" tetapi juga tahun "penuh berkat".
  • Menabung menjadi suatu keharusan setiap bulan. Hm..sampai sejauh ini kami belum menabung dengan optimal. Yup ada tabungan, tetapi kayaknya ndak sampai 10 persen dari total pendapatan tiap bulan dan itu masih diambil apabila diperlukan:( Akhirnya ya...menguap deh tabungannya. Jadi tabungan masa tua belum kami miliki. Hiks...sedih deh...Tahun ini kami perlu serius untuk memikirkan tabungan masa tua kami. Jadi bersegera menabung masa tua itu penting. Salah satu strategi tahun ini adalah meningkatkan jumlah tabungan perbulan dan pendapatan di luar pendapatan tetap akan ditabung minimal sebesar 25%, misalnya ketika ada uang perjalanan, maka itu tidak akan dihabiskan semuanya di lapangan, tetapi akan ditabung minimal 25%. 
  • Investasi. Dalam buku tersebut disebutkan sudah diperlukan untuk melakukan investasi. Bentuknya bagaimana? Ho...ho...aku tidak begitu tertarik membaca point tentang investasi ini secara detil, kayaknya itu bagian si abang aja deh:) Yang pasti...tahun ini, apabila ada pendapatan di luar budget pengeluaran, maka sudah perlu mengalokasikan ke bagian investasi. Ini sudah menjadi urgent, jadi jika ada pendapatan lebih, perlu dialokasikan sesegera mungkin.
Well...itulah hasil evaluasi yang kulakukan dan apabila kuingat lagi gaya hidup kami selama ini, pantaslah kakakku mengatakan kami sangat boros dan bakalan ndak bisa "kaya" karena aku belum menerapkan gaya hidup hemat seperti yang sudah dilakukan dari orang-orang terdekatku. Hiks..hiks...sedih mengingatnya tetapi yang berlalu biarlah berlalu dan bagaimana saat ini hasil evaluasi dapat diterapkan. Sekarang aku dan abang sama-sama belajar dan kami berdua bekerjasama dalam melakukan penghematan tahun ini. Kiranya Tuhan memberkati usaha kami berdua ini karena Tuhan juga mau banget untuk kami mengelola setiap berkatnya dengan baik. Tujuan penghematan bukan dengan alasan bisa menjadi kaya, tetapi dengan mengelola uang dengan baik, maka kita juga bertanggungjawab atas berkat yang DIA berikan dan persiapan di hari tua. Aku ndak ingin, di masa tua mengalami kesulitan keuangan. Jauh...jauhlah ya, Tuhan...:) Amin....

Berubah Melalui Pengondisian

Baca buku Mr. James sudah halaman ke sekian, bab sekian, tetapi tertarik untuk membaca ulang mengenai langkah dalam proses perubahan (bab 1), karena ingin lebih memahmi yang dikatakan Mr. James bahwa perubahan itu melalui pengondisian. Hm...jadi ingat salah satu teori psikologi yang mengatakan bahwa perubahan melalui pengondisian. Teori siapa ya? Lupa aku....asli dah lupa, tapi ingatnya konsep bahwa perubahan terjadi melalui pengondisian. Teori behavioristik??? Embuh lah...

Sebelumnya Mr. James mengatakan bahwa konsep yang salah ketika dikatakan bahwa kita berubah karena tekad kita. Kita berubah karena ada proses pengondisian. Lebih jauh Mr. James megnatakan bahwa "Menurut konsep Yesus, kita berubah melalui pengondisian.Yesus memahami bagaimana cara seseorang berubah. Itulah mengapa Dia mengajar melalui perumpamaan. Yesus menggunakan narasi untuk menjelaskan pemahaman-Nya mengenai Allah dan dunia ini. Jadi kita berubah bukan dengan cara membulatkan tekad namun dengan mengubah cara kita berpikir, yang artinya kita juga mengubah sikap dan lingkungan sosial kita. Kita melakukan apa yang dapat kita lakukan sekarang agar kelak kita dapat melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan secara langsung. Kita berubah melalui proses pengondisian. Kita tidak otomatis berubah hanya dengan mengatakan, "saya mau berubah." Kita harus mengevaluasi cara berpikir kita (konsep kita), bagaimanakah sikap kita (disiplin rohani kita), dan bagaimanakah kita berinteraksi (lingkungan sosial kita). Jika kita mengubah salah satu dan memang hal itu mungkin--maka perubahan tersebut akan datang dengan sendirinya. Inilah mengpa Yesus mengatakan bahwa "kuk"-Nya ringan. Jika kita memikirkan apa yang Yesus pikirkan, melakukan apa yang Yesus lakukan, dan menghabiskan waktu dengan orang-orang yang pikirannya sama dengan Yesus, maka kita akan menjadi sama seperti Yesus pula, dan hal itu ternyata tidaklah sulit.

Jadi kesimpulannya: ada 4 elemen mendasar, yaitu (1) mengubah konsep pikiran kita, (2) melakukan latihan praktis yang baru, (3) melalui refleksi dan berdialog dengan orang lain yang menginginkan hal yang sama, (4) di bawah pimpinan Roh Kudus. (Plek..aku kutip tulisan Mr. James:)

Hm....jadi bisa melihat satu perbedaan mendasari dari teori psikologi adalah proses pengondisian itu terjadi dengan mengubah konsep dimana konsep yang diadopsi adalah Konsep Yesus dan kuasa dari di bawah pimpinan Roh Kudus. Teori psikologi lebih kepada kekuatan kemampuan manusianya:) tetapi perubahan yang dimaksud Mr. James adalah pengondisian bersama dengan Yesus (konsep-konsep Yesus) dan menyertakan kuasa dari Pimpinan Roh Kudus.

Lanjut?? Mari kita fokus...cukup dulu sesuai dengan keputusan:) Satu pengondisian yang sedang diproses, fokus pada apa yang sudah diputuskan.

25 Januari 2017

95% Berakhir di Akhir Januari ???

Waw....dalam bukunya, James Bryan Smith mengatakan bahwa hampir 95% dari resolusi tahun baru usai pada akhir Januari. Hm....Luar biasa. Dulu pernah mendengar pernyataan ini, tetapi ini aku baca langsung dari bukunya Mr. James ini:) Ketika melihat ke diri beberapa tahun ini, koq rasanya aku bagian dari yang dikatakan Mr.James:(

Selanjutnya James mengatakan bahwa "Kebanyakan orang berpikir bahwa mereka gagal untuk menjalankan resolusi mereka, karena tekad mereka tidak cukup besar. Akhirnya mereka berpikir bahwa diri mereka lemah dan merasa kecewa dengan kegagalan mereka tersebut". Lha....koq benar lagi Mr yang satu ini? Kali dia pernah ngalami ya. Well...well...

Yup...bukan hanya merasa kecewa dengan kegagalan, tetapi akhirnya kita sampai pada kesimpulan, aku adalah orang yang lemah, orang yang tidak bisa mengalami perubahan lagi, keburukannya sudah mengkristal. Lebih jauh aku pernah mendengar dikatakan bahwa ketika orang sudah mencapai usia 40 tahun, maka adalah sangat...sangat...sulit untuk berubah. Hiks....dan itu kuyakini selama bertahun-tahun ini, apalagi dengan pengalaman 95% berakhir di akhir Januari.

Ini tidak hanya terbatas pada kelompok tertentu saja, tapi semua orang, termasuk yang mengatakan dirinya adalah Kristen:) Dan menurut Mr yang satu ini lagi, pada akhirnya setelah gagal mencoba bertahun-tahun, maka mereka menjalani kehidupan kristiani dengan putus asa, berharap akan terjadi perubahan namun tidak pernah yakin saat itu datang. Akhirnya mereka duduk di bangku gereja setiap minggu, mengeluh sendirian, dan pasrah dengan keadaan mereka.

Hiks...sebelum aku mengenal PaNan, akupun menjadi salah satu dari mereka yang duduk di bangku gereja setiap minggu, mengeluh sendiri (hm..bukan sendirian, tapi di samping suami:) dan pasrah dengan keadaan yang merasa gagal untuk berubah. Tetapi sekarang?? Sudah berubah 100 derajat? Ya belum dong...tapi pasti sudah ada perubahan dan asyiknya lagi keyakinan yang muncul akibat si PaNan ini:) Jadi udah nggak percaya lagi deh dengan omongan makin tua makin nggak bisa berubah. Berapa banyak pernyataan-pernyataan yang "membohongi" kita di sepanjang hidup kita? Lha..kalau begitu, dimana dong kuasa Sang Ilahi. Katanya berkuasa atas hidup orang, koq perubahan tidak bisa terjadi? Makanya, jangan percaya ma kebohongan-kebohongan yang ditanamkan ma pikiran kita. Lihat dong pada kuasa Sang Ilahi, tetapi jangan lupa untuk ambil bagian kita lho. Maka lebih lanjut
Mr. James ini mengatakan bahwa  "Persoalan sebenarnya bukanlah karena kita tidak mau berubah atau tidak mencoba untuk berubah. Permasalahan sebenarnya adalah karena kita tidak melatih diri kita sendiri. Kita tidak pernah belajar untuk mengikuti pola transformasi yang benar". Hm...kata kunci yang dimaksud Mr. James adalah " pola transformasi yang benar adalah melatih diri kita sendiri", jadi bukan hanya tekad saja:)

Jadi bagaimana melatih diri kita ya? So...yuks...lanjut terus membaca buku "The Good and Beatiful GOD"-nya Mr. James.

24 Januari 2017

Mari Membaca, Menulis, dan Sharing

Well....lanjutan dari kerinduan hati untuk fokus apa di tahun 2017 ini, maka buku pertama yang saya baca di awal tahun 2017 dan di akhir Januari 2017 ini adalah The Good and Beautiful GOD (Allah yang Baik dan Indah) by James Bryan Smith.

Bangun sedikit kesiangan dari harapan tadi malam:) tetapi tetap melakukan aktifitas diskusi ma abang, menyiapkan sarapan pagi dengan juice sirsak dan naga, dan makan siang. Setelah itu ambil waktu membuka email dan membaca Om Denny Siregar yang selalu menarik untuk dibaca plus jadi tahu update informasi apa yang sedang "hangat" :) Setelah itu, bersiap untuk membaca buku, tetapi itu rencananya sedikit terganggu dengan adanya isi beberapa email yang meminta untuk bersigera menyelesaikan PR2 tahun 2016:(. Hm...distract tersebut berhasil membuatku ingin segera meninggalkan tahapan membaca dan menulis ini, tetapi kemudian, saya ingat betapa seringnya saya merasa tertekan ketika ada situasi yang "mendesak" dan itu membuang energi yang sering membuat saya merasa lelah.  Oleh karena itu, saya belajar saat ini untuk tetap tenang dan mengerjakan apa yang sudah direncanakan dan kemudian setelah selesai, baru merespon untuk situasi lainnya. Mudah? Tidak...tapi saya perlu melatihnya untuk tidak mudah terdistract oleh situasi lain ketika sudah mengambil keputusan untuk melakukan ini dan itu. Sama tidak mudahnya untuk tetap berjalan pelan sementara kaki ingin berjalan cepat.Jadi ingat dengan anak teman, namanya Sammy, ketika dia didudukan di lantai, secepat kilat dia merangkat dan meraih barang yang dilihatnya.

Hm....belajar untuk tenang dan tenang, tidak mudah untuk terdistract dengan situasi lain dan tidak menjadi tertekan. Fokus pada apa yang sudah diputuskan dan yang lain biarkan menunggu sampai selesai menyelesaikan pada fokus yang sudah diputuskan.

Seruput kopinya, Om Denny?? Aih....kopi bukan hidupku, jadi tidak cocok dengan seruput kopi :) Mari berpikir, apa yang khas yang menjadi bagian diriku yang menjadi penutup tulisan.

23 Januari 2017

Helloooo Tahun 2017 !!!

Hello Dua ribu tujuh belas !!!

Walaupun sekarang sudah di akhir Januari 2017, tetapi aku tetap menyapamu dengan hello tahun 2017:) karena memang ini minggu aku mulai aktif lagi beraktifitas setelah sekian minggu tidak melakukan apa-apa selain istirahat dan istirahat. Minggu lalu sudah memulai beberapa aktifitas  tetapi belum bisa berat, masih perkenalan di awal:) Ada-ada aja....masak perkenalan awal aktifitas?? Yup...dari sebelum dan pasca operasi pengangkatan miom dan rahim, aku tidak melakukan pekerjaan secara optimal, bisa dikata hanya 10 persen saja:). Jadi...hello tahun 2017!!! Tahun yang diawali dengan "ketidakberdayaan" dimana belajar untuk tidak melakukan sesuatu tetapi tetap tenang dan mengerjakan aktivitas fisik dengan lambat. Tidak sabar rasanya...:)

Kerinduan memulai tahun ini dengan menuliskan perjalanan hidup setelah sekian lama absen dari dunia tulis menulis dengan harapan menjadi pengingat di sepanjang tahun 2017 ini tentang beberapa hal, karena jika tidak dituliskan maka akan segera berlalu. Hm...begitu banyak yang ingin ditulis, tetapi baiknya fokus pada beberapa hal saja yang mungkin dapat dikembangkan dalam tulisan-tulisan berikutnya:

1. Review singkat perjalan hidup 2016 dimana diawali dengan "angin ribut" dan diakhiri dengan "angin ribut" tetapi bagaimana kami belajar melihat Allah ada bersama kami dengan ketidakberdayaan kami dan keberadaan dan karya NYA yang ajaib.

2. Kerinduan dan mimpi dalam menjalani hidup 2017. Tahun-tahun sebelumnya begitu banyak resolusi dan seperti yang disampaikan banyak orang, kebanyakan orang di akhir bulan Januari sudah melupakan resolusinya dan akhirnya tidak mengingat lagi:) Well...karena itu, resolusiku tahun ini tidak banyak:), yaitu: mari membaca, menulis dan berbagi dan menjalani hidup dengan lebih tenang bersama DIA.

Hello tahun 2017.....akan kujalani dengan satu sikap "tiada berhenti bercakap-cakap".

 
blog template by suckmylolly.com : header image by Vlad Studio