19 Juli 2017

Grand Concert Tour 2017 - DR. Stephen Tong

Asli.....satu lagi doa yang kupinta dipenuhi oleh Tuhan Yang Maha Baik (koq kayaknya kaget ya doanya dikabulkan:). Iyah....sudah lama sekali aku pengen menonton konser musik klasik. Bukan karena aku pintar main musik klasik, bukan...bukan...tetapi aku ingin tahu seperti apa sih konser musik klasik itu? Kesannya kan kalau musik klasik itu hanya pada kelompok the have saja. 
Suatu waktu, ada satu kenalanku yang menyempatkan dirinya nonton musik klasik di eropa saat dia mengikuti seminar di salah satu negara eropa. Dia benar-benar menyiapkan diri untuk menonton musik klasik itu dan harga tiket tidak termasuk murah untuk ukuran dompetnya. Nah...hari ini, Jumat, 14 Juli 2017, aku dan abang punya kesempatan yang langka untuk nonton konser klasik ini. 
Tadinya bersyukur untuk tiket gratisnya lho....huh..dasar emak-emak...yang namanya gratis aja...senangnya selangit:) tapi ketika baru dengar pembukaannya saja dari pak Stephen Tong tentang persiapan dan biaya yang diperlukan dalam tour ini....mak jleb....aku tidak hanya bersyukur untuk gratisnya aja, tetapi untuk satu kesempatan yang langka....mendengarkan musik klasik tingkat international. Piuh....ini mulut nyaris ndak ngatup mendengar beliau cerita dari a sampai z. Piuh...pokoke...ruar biasa dan Trimakasih Tuhan untuk kesempatan yang luar biasa ini. 
  • Musik pertama diawali dengan Suppe' - Light Calvary Overture. Ini adalah karya pembuka operetta "Light Calvary". Dipentaskan perdana pada tahun 1866 di Wina. Pembukaannya yang terkenal menggambarkan derapan kuda-kuda perang yang dimainkan oleh kelompok brass dan berbaur dengan tema lagu rakyat Hongaria.  Selanjutnya lagu berikutnya adalah:
  • Mozart - The Marriage of Figaro Overture, K. 492. Digubah pada tahun 1786. Ini adalah sebuah opera komedi yang menggambarkan upaya perselingkuhan, cinta, pergumulan - baik pada kelompok aristokrat maupun kelompok pekerja, serta pengampunan, yang berujung pada pernikahan Figaro.
  • Waldteufel - Skaters'Waltz, Op. 183. Ditulis pada tahun 1882. Ini menggambarkan suatu hari yang dingin di Paris tahun 1879, ketika Eropa mengalami musim dingin terburuk, dimana kereta luncur dapat digunakan di jalan dan disungai Seine yang membeku. Orang-orang yang mulanya ragu untuk berseluncur, menjadi berani melakukan gerakan sulit bahkan dengan lompatan.
  • Strauss II - Voices of Spring, Op. 410. Ini adalah sebuah waltz yang digubah pada tahun 1882 oleh Johann Strauss II, sang Raja Waltz. Karnya ini menggambarkan pemandangan Wina di awal musim semin, dimana terdapat kicauan buruk Lark, siraman hujan, bunga bermekaran, dan kehidupan pedesaan.
  • Beethoven - Egmont Overture, Op. 84. Ini adalah musik pembuka berdasarkan lakon tragedi. Egmont, karya Goethe. Karakter Count Egmont adalah seorang martir bagi orang-orang Belanda yang berjuang melawan tirani dan invasi Spanyol abad ke-16. Overture ini menggambarkan sebuah perjlanan hidup dari kegelapan penindasan hingga kemenangan yang cerah untuk meraih kebebasan.
  • Sibelius - Finlandia, Op. 26. Karya simfoni ini yang digubah untuk Press Celebrations - sebuah demonstrasi menentang penyensoran Kekaisaran Rusia. Musik ini menggambarkan perjuangan orang-orang Finlandia di bawah Kekaisaran Rusia. Bagian tengahnya menjadi Himne Finlandia yang kemudian digunakan sebagai himne Kristen dengan judul "Tenanglah Jiwaku" dan masih digunakan sampai sekarang di seluruh dunia. 
  • Mendelssohn - Symphony No 2, Lobgesang (Hymn of Praise), Op. 52. Simfoni ke-2 "Lobgesang" adalah sebuah cantata untuk 2 sopran, tenor, paduan suara, dan orkestra. Liriknya diambil dari teks Alkitab: Mazmur, Yesaya, Efesus, dan Roma. Karya ini menggambarkan belas kasih Allah yang memerdekakan kita dari belenggu dosa menjadi alasan bagi kita memuji dan memuliakan Dia.Kemudian lagu terakhir adalah " Hallelujah, from "Messiah", HWV 56.  Judul lagu ini diciptakan oleh Handel. Digubah pada tahun 1741, ratorio ini memperkenalkan kisah tentang Yesus Kristus, Sang Mesias. Lagu paling menonjol dalam oratorio ini adalah "Hallelujah Chorus". Setelah mendengar bagian ini, Raja George II dari Inggris Raya yang menghadiri salah satu rangkaian pertunjukan di London begitu terharu sehingga beliau berdiri untuk menghormati "Penguasa di atas segala penguasa," mengklaim bahwa Yesus Kristus memiliki otoritas di atas kemampuannya sendiri. Saat Raja berdiri, semua orang berdiri dan tradisi ini masih diikuti sampai sekarang.
Benar kata sang Conductor....waktu tidak terasa berlalu sudah 2,5 jam. Rasanya masih ingin tetap duduk dan mendengarkan mereka memainkan musik nan indah dan suara koor yang luar biasa indahnya. Trimakasih, Pak Stephen Tong...kecintaanmu pada musik klasik kau sebarkan kepada orang-orang yang mungkin tidak mengerti musik sama sekali, tapi kemudian menjadi menyadari betapa indahnya musik yang diciptakan. Trimakasih....Pak Stephen Tong dan tim dan Trimakasih Tuhan buat berkat yang luar biasa ini. 

0 komentar:

 
blog template by suckmylolly.com : header image by Vlad Studio